Gerimis Senja
Hari itu aku berniat membagikan tadzkiroh (artikel yang berisi pengingatan tentang dakwah Islam). Kebetulan tema bulan ini tentang cinta. Sebab aku dan teman-teman pengurus Rohis (Kerohanian Islam) sedang berusaha membantu teman-teman yang sedang “jatuh cinta”.
Saat aku berada di gedung jurusanku aku bertemu dengan Wian adik kelasku, ikhwan (pengurus Rohis putra) yang kebetulan sedang dikabarkan “jatuh cinta”. Baru mau berbicara dia sudah laporan.
“Mbak, Wian baru jatuh, sakit nih.” Ia menunjukkan luka di keningnya.
“Sudah diobati?” tanyaku agak cemas. Wian baru saja sakit typhus hinga beberapa minggu di rumah.
“Sudah Mbak.”
Aku ragu mau menyerahkan tadzkiroh. Aku sebenarnya lebih suka jika kami diskusi, sehingga lebih mengena dan tidak terkesan menggurui lagipula aku juga belum konfirmasi kepada Wian berita itu.
Tiba-tiba muncul seorang gadis manis, teman sekelasnya. Ia tidak berbicara hanya memandang Wian dan aku bergantian lalu pergi menaiki tangga.
“Hei!” Wian memanggil gadis itu hingga gadis itu berhenti. Wian berbicara sebentar lalu kembali ke arahku.
“Mbak, aku kuliah dulu ya.”
Aku mengangguk. ‘Baiklah kali lain aku bisa memberikan tadzkiroh ini kepadanya. Ia pergi. Entah kenapa aku merasa waktu kami tidak banyak. Aku lantas memanggilnya.
“Dek!”
Ia menoleh, tersenyum “Ada apa Mbak? Ntar aja ya.”
Aku kembali mengangguk galau.
Malamnya aku baru tidur sekitar jam 24.00 WIB ada tugas yang harus diselesaikan. Baru dua jam tidur sekitar jam 02.00 WIB tiba-tiba aku terbangun. Badanku berkeringat dingin dan perasaanku sangat tidak enak. Namun kupaksakan tidur, besok pagi ada registrasi mahasiswa baru dan aku PJ-nya.
Pagi jam 10an aku masih di audiotorium membantu panitia OKKA dalam melayani mahasiswa baru. Sementara itu aku juga bolak-balik ke UKM Pramuka, karena aku juga panitia di sana.
Seorang petugas dari Menwa memanggilku, ternyata seorang akhwat (pengurus Rohis putri) memanggilku. Akumenghampirinya.
“Ada apa Dek?”
“Mbak, adek mbak, Wian ninggal.” katanya lirih
Aku kaget “Bapaknya?”
Ia menggeleng.
“Ibunya?”
Ia kembali menggeleng. Aku risau.
“Wian Mbak.” ujarnya.
Aku terdiam “ Ya, jazakillah. “
Aku merasa linglung. Segera menuju sekretariat OKKA FBS dan UKM Racana untuk pamit. Mbak Lelis koordinator Menteri BEM FBS mau ikut.
Sepanjang perjalanan aku terdiam. Hingga adek yang memberitahuku merasa kuatir.
“Mbak, Mbak sabar ya.” hiburnya.
Aku mengangguk tersenyum pias.
Sampai di kos aku mencari Fatwa, sahabatku. Dia juga kenal dekat dengan Wian. Saat itu ia sedang menyetrika. Aku menariknya ke kamar lalu memeluknya.
“Fat, Wian, adik kita ninggal.”
Tanpa kusadari air mataku deras mengalir. Ia menangis sesenggukan.
Siangnya kami ke takziah ke Batang. Ingat aku beberapa bulan lalu kami ke Batang untuk berwisata agar tidak macet maka mobil yang kami carter diberi tulisan takziah dan hari ini kami betul-betul takziah.
Sesampainya di rumah Wian kami menemui ibu Wian. Ibu Wian bercerita saat-saat akhir hidup Wian.
“Jam 23 Wian mengenakan baju haji bapaknya. Jam 1 malam jantungnya kambuh dan jam 2 ia meninggal.” Ibu Wian terisak
Aku tak dapat menahan haru biru, jam 2 ialah waktu saat aku tiba-tiba bangun. Aku menangis lagi. Oleh karena itu aku minta izin ke makam Wian. Lama kupandangi makam yang masih basah. Semilir angin menyapa wajahku. Aku terkesiap.
“Wian…”
Mas Hery dan Aji temanku mematung lalu jongkok untuk berdoa. Setelah berdoa aku kembali ke mobil disusul mereka. Kulihat mereka menangis. Hatiku semakin pilu. Wian,..adikku.
“Teringat indah senandungmu…”(lirik lagu nasyid LAZUARDI, “Senandung untuk Ayah”)
Aku ingat saat Rohis mengadakan acara TPQ Ngabuburit ia semangat sekali. Datang paling awal, dekat dengan adik-adik. Cara ia bercerita, tertawa, kecewa..masih kuingat jelas hingga sekarang. Bahkan ia dulu ingin menjadi ketua Rohis.
Bila kulihat gerimis senja, kususuri lenggang sepi gang Kenanga belakang Kampus, dan lorong gedung B1….aku kembali teringat seorang Wian. November basah 2007 setelah ia pergi 7 Juni 2005.
(Kisah ini apa adanya, nama-nama tokoh, biar di hati saja
…)