Monday, January 28, 2008

Gerimis Senja

    Hari itu aku berniat membagikan tadzkiroh (artikel yang berisi pengingatan tentang dakwah Islam). Kebetulan tema bulan ini tentang cinta. Sebab aku dan teman-teman pengurus Rohis (Kerohanian Islam) sedang berusaha membantu teman-teman yang sedang “jatuh cinta”.
    Saat aku berada di gedung jurusanku aku bertemu dengan Wian adik kelasku, ikhwan (pengurus Rohis putra) yang kebetulan sedang dikabarkan “jatuh cinta”. Baru mau berbicara dia sudah laporan.
    “Mbak, Wian baru jatuh, sakit nih.” Ia menunjukkan luka di keningnya.
    “Sudah diobati?” tanyaku agak cemas. Wian baru saja sakit typhus hinga beberapa minggu di rumah.
    “Sudah Mbak.”
    Aku ragu mau menyerahkan tadzkiroh. Aku sebenarnya lebih suka jika kami diskusi, sehingga lebih mengena dan tidak terkesan menggurui lagipula aku juga belum konfirmasi kepada Wian berita itu.
    Tiba-tiba muncul seorang gadis manis, teman sekelasnya. Ia tidak berbicara hanya memandang Wian dan aku bergantian lalu pergi menaiki tangga.
    “Hei!” Wian memanggil gadis itu hingga gadis itu berhenti. Wian berbicara sebentar lalu kembali ke arahku.
    “Mbak, aku kuliah dulu ya.”
    Aku mengangguk. ‘Baiklah kali lain aku bisa memberikan tadzkiroh ini kepadanya. Ia pergi. Entah kenapa aku merasa waktu kami tidak banyak. Aku lantas memanggilnya.
    “Dek!”
    Ia menoleh, tersenyum “Ada apa Mbak? Ntar aja ya.”
    Aku kembali mengangguk galau.
    Malamnya aku baru tidur sekitar jam 24.00 WIB ada tugas yang harus diselesaikan. Baru dua jam tidur sekitar jam 02.00 WIB tiba-tiba aku terbangun. Badanku berkeringat dingin dan perasaanku sangat tidak enak. Namun kupaksakan tidur, besok pagi ada registrasi mahasiswa baru dan aku PJ-nya.
    Pagi jam 10an aku masih di audiotorium membantu panitia OKKA dalam melayani mahasiswa baru. Sementara itu aku juga bolak-balik ke UKM Pramuka, karena aku juga panitia di sana.
    Seorang petugas dari Menwa memanggilku, ternyata seorang akhwat (pengurus Rohis putri) memanggilku. Akumenghampirinya.
    “Ada apa Dek?”
    “Mbak, adek mbak, Wian ninggal.” katanya lirih
    Aku kaget “Bapaknya?”
    Ia menggeleng.
    “Ibunya?”
    Ia kembali menggeleng. Aku risau.
    “Wian Mbak.” ujarnya.
    Aku terdiam “ Ya, jazakillah. “
    Aku merasa linglung. Segera menuju sekretariat OKKA FBS dan UKM Racana untuk pamit. Mbak Lelis koordinator Menteri BEM FBS mau ikut.
    Sepanjang perjalanan aku terdiam. Hingga adek yang memberitahuku merasa kuatir.
    “Mbak, Mbak sabar ya.” hiburnya.
    Aku mengangguk tersenyum pias.
    Sampai di kos aku mencari Fatwa, sahabatku. Dia juga kenal dekat dengan Wian. Saat itu ia sedang menyetrika. Aku menariknya ke kamar lalu memeluknya.
    “Fat, Wian, adik kita ninggal.”
    Tanpa kusadari air mataku deras mengalir. Ia menangis sesenggukan.
    Siangnya kami ke takziah ke Batang. Ingat aku beberapa bulan lalu kami ke Batang untuk berwisata agar tidak macet maka mobil yang kami carter diberi tulisan takziah dan hari ini kami betul-betul takziah.
    Sesampainya di rumah Wian kami menemui ibu Wian. Ibu Wian bercerita saat-saat akhir hidup Wian.
    “Jam 23 Wian mengenakan baju haji bapaknya. Jam 1 malam jantungnya kambuh dan jam 2 ia meninggal.” Ibu Wian terisak
    Aku tak dapat menahan haru biru, jam 2 ialah waktu saat aku tiba-tiba bangun. Aku menangis lagi. Oleh karena itu aku minta izin ke makam Wian. Lama kupandangi makam yang masih basah. Semilir angin menyapa wajahku. Aku terkesiap.
    “Wian…”
    Mas Hery dan Aji temanku mematung lalu jongkok untuk berdoa. Setelah berdoa aku kembali ke mobil disusul mereka. Kulihat mereka menangis. Hatiku semakin pilu. Wian,..adikku.
    “Teringat indah senandungmu…”(lirik lagu nasyid LAZUARDI, “Senandung untuk Ayah”)
    Aku ingat saat Rohis mengadakan acara TPQ Ngabuburit ia semangat sekali. Datang paling awal, dekat dengan adik-adik. Cara ia bercerita, tertawa, kecewa..masih kuingat jelas hingga sekarang. Bahkan ia dulu ingin menjadi ketua Rohis.
    Bila kulihat gerimis senja, kususuri lenggang sepi gang Kenanga belakang Kampus, dan lorong gedung B1….aku kembali teringat seorang Wian. November basah 2007 setelah ia pergi 7 Juni 2005.

 

(Kisah ini apa adanya, nama-nama tokoh, biar di hati sajaCry…)

Posted by ata at 04:44:50 | Permalink | No Comments »

Antara aku, kau, dan dakwah kita

    Siang itu, suara nyaring band dari Rohis Fakultas di acara Festival Seni Islami terasa hening di antara kami. karena hanya ada sepi. Aku memandang ke arah yang berbeda dengannya, menunduk. Sekilas kulihat ia memandang jauh ke depan, mencoba tegar.  
    Teman-teman yang sedang duduk di depan panggung terbuka hanya menatap kami, tidak dapat membaca kebisuan ini.
    “Bagaimana Akh?” tanyaku tercekat memecah sunyi. Aku seakan tidak mendengar suaraku sendiri. Antara harap, ragu, dan cemas.
    Ia terdiam, terdengar helaan nafas panjangnya yang berat.
    “Entahlah Ukht.”
    Aku merasa gamang, ingin segera kusudahi ingat ucapan salah seorang al akh tadi pagi, bahwa dia tidak bersedia, tapi aku ingin tetap di sini. Karena aku percaya pada kekuatan hati, kekuatan dari Allah.
    Tapi ketika lama tidak ada yang memulai bicara lagi, aku merasa harus mengakhiri..
    “Ya…sudah.” Aku akan beranjak pergi sebelum tiba-tiba ia menggeser posisi duduknya dengan tanpa menghadap ke arahku.
    “Mengapa..mengapa Anti memilih ana?”   
    Aku memandangnya sekilas lalu menatap lazuardi yang abu-abu bagiku mencoba mencari kekuatan di sana. Kuselami hatiku berharap temukan jawaban. Aku tidak pernah menduga ia akan bertanya seperti ini. Aku tidak mau ia merasa seperti dijadikan pilihan terakhir.
    “Mengapa Mbak?”
    Lidahku jadi kelu, tidak seperti ketika aku membujuk adek-adek agar tetap berada di jalan dakwah ini atau ketika aku melobi birokrat dan bernegoisasi lalu berhasil dengan izin Allah.
    “Karena mbak merasa Njenengan bisa…” jawabku, akhirnya bersamaan dengan suara musik yang keras.
    “Afwan ana tidak mendengar..” ucapnya
    Ya Allah, hatiku sudah biru. Ingin menyeruak buliran yang sembunyi di kelopak mataku.
    “Alasannya….karena Allah.” aku mendongak.
    Air mata jangan berderai di depan manusia, aku tidak mau.
    Lama dia terdiam.
    Sudahlah, mungkin Allah memberi skenario lain yang lebih indah untukku, dan untuknya, dan untuk dakwah ini.
    “Ya..” aku mau berkata ‘ya sudah Akh, ana tidak memaksa’
    Ia menoleh ke arahku.
    “Insyaallah Mba.”
    “Apa?”
    ‘aku tidak salah mendengar kan?’ bisik hati kecilku.
    “Insyaallah Mbak, ana siap.”
    Haru bahagia bercampur kuatir lantas menegur.
    “Ana..tidak medzalimi Njenengan kan?”
    Aku berpaling, tempias air mata ini tanpa menyapa mengalir.   
    “Tidak Mbak.. Ayo berangkat” ia tersenyum dan aku ikut tersenyum

Ya Allah, tadi pagi seorang al akh pejuang Laskar Cinta memintanya untuk jadi anggota DPM KM mewakili fakultas tapi dia tidak mau. Padahal jika BEM fakultas tidak dikelola maka advokasi untuk dakwah ini akan semakin tertutup. Harapan kami tinggal dia, dan dalam waktu kurang sepuluh menit penutupan pendaftaran aku harus membujuk dia…ikhwan (pengurus Rohis) adik kelasku.

Saat acara Rohis, 1 Desember 2007 di serambi dekanat dalam salah satu episode Laskar Cinta 1428 H.

Posted by ata at 04:37:01 | Permalink | No Comments »

Tuesday, January 15, 2008

Sulung

Pada sore yang abu-abu ini kumulai dengan basmallah…bismillahirrahmanirrahim

sampun itu saja sebagai aksara pertama yang tak wantah, dan harus dibaca setiap muslim setiap nglakoni lakon
kehidupan ini

Posted by ata at 10:29:45 | Permalink | Comments (1) »