<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>yangtakwantahmengeja</title>
	<atom:link href="http://yangtakwantahmengeja.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 13:54:37 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sahabat perjuangan..</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/06/29/sahabat-perjuangan/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/06/29/sahabat-perjuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 13:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="background-color: #00ffff; text-align: justify"><font size="2"><font face="comic sans ms,sand"><font color="#0000FF">&#160;&#160;&#160; Beberapa hari ini Azkiers, penghuni kos Azkiya angkatan ketiga tahun 2007-2008 mulai berbenah. Setelah setahun lamanya bersama berbagi makanan, minuman, tawa, tangis, ..tikar..(setelah tragedi 'higher virus' menyerang Azkiya) tidak terasa sudah saatnya berpisah. Rolling per tahun Pesantren Mahasiswa Qolbun Salim yang kini berada di bawah manajemen Pesantren Basmalla memberi tenggang waktu hingga besok. Memang, ketika sudah siap masuk Pesma harus siap dirolling ke kos Pesma yang lain. Sudah resiko. Tapi tetap saja isak tangis, gerimis di hati tetap berderai...hiks..hiks..hiks..<br />
&#160; Terlebih setelah aku tahu, mau pindah ke Tembalang. Yup anggun banget (anggun=akhwat gunung). dari gunung Sumbing-Sindoro ke Gunungpati, setelah itu ke Bukit Kencana. Jangan ditanya bagaimana rasanya...duh..mending tetap wae di Unnes. tapi kan sudah lulus, 'yang datang dan pergi pasti terjadi' lima tahun lalu aku yang datang, kinio aku yang harus pergi. Apalagi amanah sebagai desainer arsitek peradaban (guru...) sudah menanti. Alhamdulillah setelah lulus, wisuda, aku diterima mengajar di Sekolah Alam Ar Ridho. Sebenarnya sesuai dengan renstra hanya saja dulu pinginnya sih..buat sekolah alam sendiri di Kalimantan atau daerah terpencil di Indonesia.&#160; Namun, pulang seminggu sekali...naik helikopter....</font></font></font><img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-smile.gif" alt="Smile" title="Smile" border="0" />..<br />
<font color="#0000FF" face="comic sans ms,sand" size="2">&#160;&#160;&#160; Wis lah, hadapi dengan senyuman semua yang terjadi harus terjadi..(demikian Mars Laskar Cinta FBS 1428 H). Allahu, aku yakin ini skenario terbaik dari YANG MAHA BERKEHENDAK.<br />
&#160;&#160; Tadi malam aku packing, ...waduh..tambah..melow..adek-adek sudah bobok. Kupandangi "rumah kecil"ku beserta keluarga "kecil"ku..I'm gonna away. Ingat semua slide ketika di Unnes...everything we shared together...aduih...biru..bener-bener biru. Apalagi beberapa hari ini banyak yang kirim sms cinta dari fansku..eh...sahabat-sahabatku yang sudah mutasi duluan. Ukhti Ika, ukhti Santi, ukhti Danik, loph u katsir/ jiddan ya (sepertinya salah semua). Nanti ukhti Pipit, sobat perjuangan di Rohis Kalimasada (satu-satunya LDK yang kuikuti saat di Unnes). mau mutasi juga alhamdulillah jadi guru di Brebes yang kenes-kenes pedes..he...he. Dek Fani, sekretaris FLP Smg juga mau mutasi (dek..perjuangan Tim Suksesi Skripsi 'AH' belum berakhir yo...).<br />
&#160;&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; "Tuk teman-teman terbaikku<br />
&#160;&#160;&#160; tetaplah setia di jalanmu<br />
&#160;&#160;&#160; Allah, kuatkan iman di hatinya..<br />
<br />
&#160;&#160;&#160; Patahkan segala rintangan<br />
&#160;&#160;&#160; kerikil, batu, yang menghalang<br />
&#160;&#160;&#160; Semoga..mudah bagimu<br />
&#160;&#160;&#160; tuk bahagia<br />
<br />
&#160;&#160;&#160; Sampai jumpa<br />
&#160;&#160;&#160; teman baikku<br />
&#160;&#160;&#160; semoga...bertemu<br />
&#160;&#160;&#160; dalam jannah-Nya"<br />
&#160;&#160;&#160;&#160; &#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Ni lagu NAUFAL lagi, tidak tahu mengapa beberapa hari ini lagu NAUFAL jadi lagu kebangsaan Azkiers. Mungkin ini tulisan terakhirku menjelang mutasi ke Tembalang...Bismillahirrahmanirrahim.<br />
&#160;&#160;&#160; Oh ya buat dek Neina..makasih sudah temani diriku ngetik lama di depan mas komputer yang loli banget...tapi tambira (tetap gembira). Oye?<br /></font></div>
<font style="background-color: #00ffff" size="2"><font face="comic sans ms,sand"><font color="#0000FF"><br /></font></font></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="background-color: #00ffff; text-align: justify"><font size="2"><font face="comic sans ms,sand"><font color="#0000FF">&#160;&#160;&#160; Beberapa hari ini Azkiers, penghuni kos Azkiya angkatan ketiga tahun 2007-2008 mulai berbenah. Setelah setahun lamanya bersama berbagi makanan, minuman, tawa, tangis, ..tikar..(setelah tragedi &#8216;higher virus&#8217; menyerang Azkiya) tidak terasa sudah saatnya berpisah. Rolling per tahun Pesantren Mahasiswa Qolbun Salim yang kini berada di bawah manajemen Pesantren Basmalla memberi tenggang waktu hingga besok. Memang, ketika sudah siap masuk Pesma harus siap dirolling ke kos Pesma yang lain. Sudah resiko. Tapi tetap saja isak tangis, gerimis di hati tetap berderai&#8230;hiks..hiks..hiks..<br />
&#160; Terlebih setelah aku tahu, mau pindah ke Tembalang. Yup anggun banget (anggun=akhwat gunung). dari gunung Sumbing-Sindoro ke Gunungpati, setelah itu ke Bukit Kencana. Jangan ditanya bagaimana rasanya&#8230;duh..mending tetap wae di Unnes. tapi kan sudah lulus, &#8216;yang datang dan pergi pasti terjadi&#8217; lima tahun lalu aku yang datang, kinio aku yang harus pergi. Apalagi amanah sebagai desainer arsitek peradaban (guru&#8230;) sudah menanti. Alhamdulillah setelah lulus, wisuda, aku diterima mengajar di Sekolah Alam Ar Ridho. Sebenarnya sesuai dengan renstra hanya saja dulu pinginnya sih..buat sekolah alam sendiri di Kalimantan atau daerah terpencil di Indonesia.&#160; Namun, pulang seminggu sekali&#8230;naik helikopter&#8230;.</font></font></font><img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-smile.gif" alt="Smile" title="Smile" border="0" />..<br />
<font color="#0000FF" face="comic sans ms,sand" size="2">&#160;&#160;&#160; Wis lah, hadapi dengan senyuman semua yang terjadi harus terjadi..(demikian Mars Laskar Cinta FBS 1428 H). Allahu, aku yakin ini skenario terbaik dari YANG MAHA BERKEHENDAK.<br />
&#160;&#160; Tadi malam aku packing, &#8230;waduh..tambah..melow..adek-adek sudah bobok. Kupandangi &#8220;rumah kecil&#8221;ku beserta keluarga &#8220;kecil&#8221;ku..I&#8217;m gonna away. Ingat semua slide ketika di Unnes&#8230;everything we shared together&#8230;aduih&#8230;biru..bener-bener biru. Apalagi beberapa hari ini banyak yang kirim sms cinta dari fansku..eh&#8230;sahabat-sahabatku yang sudah mutasi duluan. Ukhti Ika, ukhti Santi, ukhti Danik, loph u katsir/ jiddan ya (sepertinya salah semua). Nanti ukhti Pipit, sobat perjuangan di Rohis Kalimasada (satu-satunya LDK yang kuikuti saat di Unnes). mau mutasi juga alhamdulillah jadi guru di Brebes yang kenes-kenes pedes..he&#8230;he. Dek Fani, sekretaris FLP Smg juga mau mutasi (dek..perjuangan Tim Suksesi Skripsi &#8216;AH&#8217; belum berakhir yo&#8230;).<br />
&#160;&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; &#8220;Tuk teman-teman terbaikku<br />
&#160;&#160;&#160; tetaplah setia di jalanmu<br />
&#160;&#160;&#160; Allah, kuatkan iman di hatinya..</p>
<p>&#160;&#160;&#160; Patahkan segala rintangan<br />
&#160;&#160;&#160; kerikil, batu, yang menghalang<br />
&#160;&#160;&#160; Semoga..mudah bagimu<br />
&#160;&#160;&#160; tuk bahagia</p>
<p>&#160;&#160;&#160; Sampai jumpa<br />
&#160;&#160;&#160; teman baikku<br />
&#160;&#160;&#160; semoga&#8230;bertemu<br />
&#160;&#160;&#160; dalam jannah-Nya&#8221;<br />
&#160;&#160;&#160;&#160; &#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Ni lagu NAUFAL lagi, tidak tahu mengapa beberapa hari ini lagu NAUFAL jadi lagu kebangsaan Azkiers. Mungkin ini tulisan terakhirku menjelang mutasi ke Tembalang&#8230;Bismillahirrahmanirrahim.<br />
&#160;&#160;&#160; Oh ya buat dek Neina..makasih sudah temani diriku ngetik lama di depan mas komputer yang loli banget&#8230;tapi tambira (tetap gembira). Oye?<br /></font></div>
<p><font style="background-color: #00ffff" size="2"><font face="comic sans ms,sand"><font color="#0000FF"><br /></font></font></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/06/29/sahabat-perjuangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah semua yang terjadi&#8230;</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/05/16/setelah-semua-yang-terjadi/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/05/16/setelah-semua-yang-terjadi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 17:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="text-align: justify"><font color="#0000FF"><font size="1"><font face="comic sans ms,sand"><font size="2">&#160;&#160; Beberapa hari ini perih rasanya ketika berjalan sendiri lewati jalan ke kos yang selalu lewati kampus Ungu (FBS Unnes), terlebih ketika melewati gedung B1, gedung jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kebahagiaan yang kurasakan saat wisuda 'rame-rame' dengan keluarga besar kelas PBSI Reguler 2003 terasa pupus. Kangen yang membuncah hingga merasa sepi di jalan yang ramai. Teringat dulu duduk bersama berbagi tawa, duka, ilmu. Seperti baru kemarin kami bertemu 63 mahasiswa baru lalu di akhir kelulusan tinggal 59. Betapa aku bahagia dan bersyukur pernah mengenal teman-teman yang baik seperti mereka. Saat ku lelah mereka jadi tempat bersandar, saat ku sedih mereka buatku tertawa, saat kubahagia mereka ingatkan aku untuk bersyukur. "Maka ni'mat tuhan-mu manalagi yang akan engkau dustakan?"<br />
&#160;&#160; Berbagai slide kenangan tanpa sapa memenuhi tiap sudut yang kini kosong. Saat aku ikut OKKA FBS 2003, OKPT 2003, syuro Rohis K5sada di taman, FLP yang heboh, DPM FBS yang penuh strategi, panitia OKKA "Lebah Ungu" 2005 yang seru,all about u sobat...hidup ini penuh warna yang tak wantah mengeja. Brigade Al Qosam FBS 1426 H, Pejuang Laskar Cinta FBS 1428 H. Kalian semua...jazakumullah khoiron katsiron telah membuatku memahami bahwa Allah mencintaiku dengan hadirnya kalian.<br />
&#160;&#160; Beberapa hari ini banyak yang pamit mau berjuang ke daerah, .."Slamat tinggal Sahabatku, kurelakan engkau berjuang menegakkan cahaya Islam jauh di negeri sebrang...Di sini kita pernah bertemu mencari warna seindah pelangi..." Ana uhibbukum fillah....<br />
&#160;&#160;&#160; Ada salah seorang yang tadinya mau 'memberi' sesuatu tapi setelah kurenungkan 'yang mau diberikan' itu ternyata sebuah kenangan miliknya saat menjalankan suatu amanah. Aku tidak akan mengambilnya darimu, teman. Jika sesuatu itu adalah serpihan masa lalu yang tersisa, biarlah sesuatu itu akan terus menatah ingatanmu dan kau bawa pulang. Mungkin, kita tidak akan bertemu lagi.<br />
&#160;&#160;&#160; Prends...kalau suatu saat nanti..kau pulang kembali ke kampus tercinta kita ini, melewati gang-gang yang pernah kau susuri, gedung kuliah, gazebo taman, ingatlah sebuah kisah klasik yang tidak akan kau biarkan luruh bersama waktu. Semoga Allah mempertemukan kita ke dalam keadaan yang lebih baik. See u next time in His paradise...amin<br /></font></font></font></font></div>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify"><font color="#0000FF"><font size="1"><font face="comic sans ms,sand"><font size="2">&#160;&#160; Beberapa hari ini perih rasanya ketika berjalan sendiri lewati jalan ke kos yang selalu lewati kampus Ungu (FBS Unnes), terlebih ketika melewati gedung B1, gedung jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kebahagiaan yang kurasakan saat wisuda &#8216;rame-rame&#8217; dengan keluarga besar kelas PBSI Reguler 2003 terasa pupus. Kangen yang membuncah hingga merasa sepi di jalan yang ramai. Teringat dulu duduk bersama berbagi tawa, duka, ilmu. Seperti baru kemarin kami bertemu 63 mahasiswa baru lalu di akhir kelulusan tinggal 59. Betapa aku bahagia dan bersyukur pernah mengenal teman-teman yang baik seperti mereka. Saat ku lelah mereka jadi tempat bersandar, saat ku sedih mereka buatku tertawa, saat kubahagia mereka ingatkan aku untuk bersyukur. &#8220;Maka ni&#8217;mat tuhan-mu manalagi yang akan engkau dustakan?&#8221;<br />
&#160;&#160; Berbagai slide kenangan tanpa sapa memenuhi tiap sudut yang kini kosong. Saat aku ikut OKKA FBS 2003, OKPT 2003, syuro Rohis K5sada di taman, FLP yang heboh, DPM FBS yang penuh strategi, panitia OKKA &#8220;Lebah Ungu&#8221; 2005 yang seru,all about u sobat&#8230;hidup ini penuh warna yang tak wantah mengeja. Brigade Al Qosam FBS 1426 H, Pejuang Laskar Cinta FBS 1428 H. Kalian semua&#8230;jazakumullah khoiron katsiron telah membuatku memahami bahwa Allah mencintaiku dengan hadirnya kalian.<br />
&#160;&#160; Beberapa hari ini banyak yang pamit mau berjuang ke daerah, ..&#8221;Slamat tinggal Sahabatku, kurelakan engkau berjuang menegakkan cahaya Islam jauh di negeri sebrang&#8230;Di sini kita pernah bertemu mencari warna seindah pelangi&#8230;&#8221; Ana uhibbukum fillah&#8230;.<br />
&#160;&#160;&#160; Ada salah seorang yang tadinya mau &#8216;memberi&#8217; sesuatu tapi setelah kurenungkan &#8216;yang mau diberikan&#8217; itu ternyata sebuah kenangan miliknya saat menjalankan suatu amanah. Aku tidak akan mengambilnya darimu, teman. Jika sesuatu itu adalah serpihan masa lalu yang tersisa, biarlah sesuatu itu akan terus menatah ingatanmu dan kau bawa pulang. Mungkin, kita tidak akan bertemu lagi.<br />
&#160;&#160;&#160; Prends&#8230;kalau suatu saat nanti..kau pulang kembali ke kampus tercinta kita ini, melewati gang-gang yang pernah kau susuri, gedung kuliah, gazebo taman, ingatlah sebuah kisah klasik yang tidak akan kau biarkan luruh bersama waktu. Semoga Allah mempertemukan kita ke dalam keadaan yang lebih baik. See u next time in His paradise&#8230;amin<br /></font></font></font></font></div>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/05/16/setelah-semua-yang-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kangen Pramuka</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/25/kangen-pramuka/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/25/kangen-pramuka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 20:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<div style="background-color: #ffcc99; text-align: justify"><font color="#993300" face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif" size="2">Menjelang April...hari-hari jadi penuh air hujan. Begitu juga malam ini. Aku jadi teringat banyak kenangan saat mengikuti Pertiwana III. Hari itu (aku lupa tanggalnya) aku mendapat jatah kegiatan bakti hutan, kerja bakti hutan gitu. Aku dengar kabar Pertiwana III ini 'kelinci percobaan' Jambore Nasional bulan Juni 2001, waduh sedihnya tapi tidak mengapa, aku sudah dipertemukan dengan teman perjuangan yang keren-keren.<br />
Sore itu hujan tak juga reda, di kaki gunung Slamet...brr ademe pooollll. Dengan mengenakan jas hujan milik bapak, yang masih tertulis Pos dan Giro (jas hujan kantor zadul, zaman dahulu <img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-laughing.gif" alt="Laughing" title="Laughing" border="0" />) aku pede ke pos Bakti Hujan banyak juga yang berkomentar lantas tertawa geli 'kok ada tukang pos nyasar' , aku tidak peduli yang penting tidak kehujanan.<br /></font></div>
<font style="background-color: #ffcc99" color="#993300" face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif" size="2">Sesampai di sana kami kerja bakti beneran, bersih-bersih sampah di hutan. Jadi kepikiran seharusnya pembalak kayu itu dihukum begini ya, bersih-bersih hutan atau disuruh menanam pohon sesuai yang dibalak sampai pohon itu gede. Biar tahu rasa! Aku paling sebelll dengan orang yang tidak cinta lingkungan. Hidup lingkungan!<br />
Kembali ke cerita....<br />
Tiba-tiba kakiku nyangkut kayu yang gede, kutarik susah juga. Akhirnya mau tidak mau aku minta tolong Ubaloka, Ubaloka itu anggota Pramuka tingkat Penegak yang sering bantu pelaksanaan kegiatan Pramuka yang gede (seingatku gitu). Mereka diseleksi loh.<br />
"Kak, maaf minta tolong ni ada kayu gede banget."<br />
Beberapa ubaloka dan peserta Pertiwana III bergegas membantu, ramai-ramai. Tapi kok sulit ya..heran. Saat mereka asyik menarik tuh kayu aku ikuti ujung kayu..'Oalah..', aku tersenyum sendiri,<br />
Kemudian kuhampiri mereka agak malu juga.<br />
"Kak, maaf."<br />
Mereka menoleh, "Ada apa Kak?"<br />
"Sepertinya ini akar pohon itu." aku menunjuk ke sebuah pohon yang gede banget.<br />
Terdengar ledakan, bukan bom tapi tawa.<br />
"Oalah..."<br />
<br />
Jadi kangen Pramuka...oh ya katanya nanti jika wisuda keanggotaanku di Racana (satuan Pramuka Penegak, biasanya di PT) akan dilepas lewat upacara adat. Keren ya<img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-smile.gif" alt="Smile" title="Smile" border="0" />, tapi sedih juga..<img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-cry.gif" alt="Cry" title="Cry" border="0" /></font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="background-color: #ffcc99; text-align: justify"><font color="#993300" face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif" size="2">Menjelang April&#8230;hari-hari jadi penuh air hujan. Begitu juga malam ini. Aku jadi teringat banyak kenangan saat mengikuti Pertiwana III. Hari itu (aku lupa tanggalnya) aku mendapat jatah kegiatan bakti hutan, kerja bakti hutan gitu. Aku dengar kabar Pertiwana III ini &#8216;kelinci percobaan&#8217; Jambore Nasional bulan Juni 2001, waduh sedihnya tapi tidak mengapa, aku sudah dipertemukan dengan teman perjuangan yang keren-keren.<br />
Sore itu hujan tak juga reda, di kaki gunung Slamet&#8230;brr ademe pooollll. Dengan mengenakan jas hujan milik bapak, yang masih tertulis Pos dan Giro (jas hujan kantor zadul, zaman dahulu <img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-laughing.gif" alt="Laughing" title="Laughing" border="0" />) aku pede ke pos Bakti Hujan banyak juga yang berkomentar lantas tertawa geli &#8216;kok ada tukang pos nyasar&#8217; , aku tidak peduli yang penting tidak kehujanan.<br /></font></div>
<p><font style="background-color: #ffcc99" color="#993300" face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif" size="2">Sesampai di sana kami kerja bakti beneran, bersih-bersih sampah di hutan. Jadi kepikiran seharusnya pembalak kayu itu dihukum begini ya, bersih-bersih hutan atau disuruh menanam pohon sesuai yang dibalak sampai pohon itu gede. Biar tahu rasa! Aku paling sebelll dengan orang yang tidak cinta lingkungan. Hidup lingkungan!<br />
Kembali ke cerita&#8230;.<br />
Tiba-tiba kakiku nyangkut kayu yang gede, kutarik susah juga. Akhirnya mau tidak mau aku minta tolong Ubaloka, Ubaloka itu anggota Pramuka tingkat Penegak yang sering bantu pelaksanaan kegiatan Pramuka yang gede (seingatku gitu). Mereka diseleksi loh.<br />
&#8220;Kak, maaf minta tolong ni ada kayu gede banget.&#8221;<br />
Beberapa ubaloka dan peserta Pertiwana III bergegas membantu, ramai-ramai. Tapi kok sulit ya..heran. Saat mereka asyik menarik tuh kayu aku ikuti ujung kayu..&#8217;Oalah..&#8217;, aku tersenyum sendiri,<br />
Kemudian kuhampiri mereka agak malu juga.<br />
&#8220;Kak, maaf.&#8221;<br />
Mereka menoleh, &#8220;Ada apa Kak?&#8221;<br />
&#8220;Sepertinya ini akar pohon itu.&#8221; aku menunjuk ke sebuah pohon yang gede banget.<br />
Terdengar ledakan, bukan bom tapi tawa.<br />
&#8220;Oalah&#8230;&#8221;</p>
<p>Jadi kangen Pramuka&#8230;oh ya katanya nanti jika wisuda keanggotaanku di Racana (satuan Pramuka Penegak, biasanya di PT) akan dilepas lewat upacara adat. Keren ya<img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-smile.gif" alt="Smile" title="Smile" border="0" />, tapi sedih juga..<img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-cry.gif" alt="Cry" title="Cry" border="0" /></font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/25/kangen-pramuka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Gerimis</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/25/untuk-gerimis/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/25/untuk-gerimis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 19:48:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[April basah akan hadir lagi di tahun ini. Tahun ketujuh, setelah gerimis di pagi itu, di antara derai daun pinus, di antara rasa yang mengiringi kepergianku..rasa yang tak bisa kuejawantahkan, tapi tereja lewat buliran bening.<br />
&#160;&#160;&#160; di antara jeda sunyi<br />
&#160;&#160;&#160; di sana<br />
&#160;&#160;&#160; di kaki gunung Slamet<br />
&#160;&#160;&#160; di bumi perkemahan Baturraden<br />
&#160;&#160;&#160; Saat ruang dan waktu menghempas kebersamaan ini menjadi kenangan.<br />
&#160;&#160;&#160; 29 April 2001<br />
&#160;&#160;&#160; Selalu tertatah di hati ini<br />
&#160;&#160;&#160; Pertiwana Daerah III Jateng (Perkemahan Bati Saka Wana Bakti) even Sumatra-Jawa-Bali<br />
<br />
&#160;&#160;&#160; Andai ku tahu, mungkin saat itulah terakhir kalinya kudendangkan lagu ini di antara gerimis<br />
&#160;&#160;&#160; "Gula-gula kelapa sama santan, Wana Bakti manise...<br />
&#160;&#160;&#160;&#160; Gula-gula kelapa sama santan, Temanggung manise...."<br />
&#160;&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; (mereka memanggilku)<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; Cah Ayu Temanggung No.12<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; Saka Wana Bakti Kwarcab XI. 23
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>April basah akan hadir lagi di tahun ini. Tahun ketujuh, setelah gerimis di pagi itu, di antara derai daun pinus, di antara rasa yang mengiringi kepergianku..rasa yang tak bisa kuejawantahkan, tapi tereja lewat buliran bening.<br />
&#160;&#160;&#160; di antara jeda sunyi<br />
&#160;&#160;&#160; di sana<br />
&#160;&#160;&#160; di kaki gunung Slamet<br />
&#160;&#160;&#160; di bumi perkemahan Baturraden<br />
&#160;&#160;&#160; Saat ruang dan waktu menghempas kebersamaan ini menjadi kenangan.<br />
&#160;&#160;&#160; 29 April 2001<br />
&#160;&#160;&#160; Selalu tertatah di hati ini<br />
&#160;&#160;&#160; Pertiwana Daerah III Jateng (Perkemahan Bati Saka Wana Bakti) even Sumatra-Jawa-Bali</p>
<p>&#160;&#160;&#160; Andai ku tahu, mungkin saat itulah terakhir kalinya kudendangkan lagu ini di antara gerimis<br />
&#160;&#160;&#160; &#8220;Gula-gula kelapa sama santan, Wana Bakti manise&#8230;<br />
&#160;&#160;&#160;&#160; Gula-gula kelapa sama santan, Temanggung manise&#8230;.&#8221;<br />
&#160;&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; (mereka memanggilku)<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; Cah Ayu Temanggung No.12<br />
&#160;&#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; &#160;&#160; Saka Wana Bakti Kwarcab XI. 23
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/25/untuk-gerimis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Pilihan</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/05/sebuah-pilihan/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/05/sebuah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 19:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font style="color: #cc33cc" size="1">Beberapa hari ini aku menyadari banyak hal, sebuah proses yang panjang untuk mengenal arti diri. Bukan hal yang mudah manakala kita harus memilih, sebab tidak memilih pun kita juga telah memilih.</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Kemarin malam, seorang teman, berbicara tentang sebuah pilihan. Ia mengatakan kepada kami kalau ia sedang galau. Sudah lama ia ingin meninggalkan dunia kelam yang selama ini ia kenal, dan alhamdulillah di Ramadhan ini ia berhasil meninggalkan dengan bertahap. Namun ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia masih berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa ia dulu <i>dibesarkan</i> dalam lingkungan <i>kelam</i> tersebut, sehingga ia merasa berhutang budi.</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Oleh karenanya ketika teman masa lalunya berniat mengajaknya kembali ke kehidupan masa lalu dengan mengajaknya melakukan hal yang tidak baik, ia merasa bersalah. Ia ragu. Ia lalu berkata padaku "Komunitas kami penuh dengan kesetiakawanan dan solidaritas. Saya merasa tidak tahu budi. Sebab mereka banyak membantu saya"</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku menyimak, merenung aku menamakannya dengan ukhuwah. Lantas terlintas olehku sebuah komunitas yang dulu pernah kumasuki, di masa lalu yang hampir sama dengan komunitasnya. Akan tetapi justru dalam komunitasku inilah aku mengenal dan belajar tentang sebuah arti kepercayaan diri dan sebuah izzatun muslimah, harga diri seorang muslimah. Aku belajar bagaimana cara bersikap dan berprinsip, tentu saja prinsip sebagai muslimah. Manakala anggota putri yang lain bersedia bersalaman -yang mungkin bagi banyak orang masih menganggap ini wajar dan diperbolehkan- aku tidak, dan alhamdulillah mereka menghargaiku seperti itu. Mereka tidak mengajakku bersalaman, ini contoh kecil saja. Sehingga pada saat itu aku benar-benar merasa diterima sebagaimana aku apa adanya, namun diperlakukan seharusnya aku.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku lantas bertanya pada temanku itu, "Kamu benar ingin kembali jadi baik?"</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia terdiam, "Ya..tapi,", "Saya bingung harus bagaimana"</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku menghela nafas, ini memang bukan hal yang mudah. "Katakan pada mereka, kamu ingin berubah. Kamu tetap ingin berteman dengan mereka tapi dengan keadaan seperti sekarang."</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">"Sulit, ini pilihan yang sulit." ia menunduk dalam.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">"Dengar," kataku "Hidup ini adalah pilihan tidak memilih pun kamu sudah memilih. Jadi lebih baik kamu memilih yang kamu yakini."</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia menatap kosong. "Tapi sebentar lagi mereka mau ke sini,..saya tidak ingin niat saya berubah di bulan Ramadhan ini ternoda."</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku merasakan hatinya sakit karena ketidakberdayaannya.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">"Biar aku yang temui mereka." kata salah seorang teman yang ikut berbincang bersama kami.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia mengangguk tidak pasti. Aku mengangguk.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Tiba-tiba dua orang datang ke arah kami, memanggil nama temanku. Kami menoleh terkejut, aku takut, dan sungguh kuatir. Mereka tal kalah terkejut melihat keberadaanku.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">"Kamu yang bisa menentukan.." ucapku pelan.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">"Bagaimana? Jadi tidak?" tanya salah seorang dari mereka.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Temanku bingung, menatapku dan temannya bergantian. Aku berdoa, Ya Allah jagalah ia.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Galau ia menjawab, "Ayo!"</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku pias, "Aku harus segera pergi. Pamit dulu." aku lantas berdiri. "Yuk semua aku duluan."</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia menunduk, "Ya, kamu memang harus segera pergi."</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku merasa sedih...tapi kembali ku tersadar semua sudah menjadi skenario-Nya yang terbaik. Tak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa seizin-Nya.</font><font size="1"><br />
<br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ramadhan/ Syawal 1427 H</font>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font style="color: #cc33cc" size="1">Beberapa hari ini aku menyadari banyak hal, sebuah proses yang panjang untuk mengenal arti diri. Bukan hal yang mudah manakala kita harus memilih, sebab tidak memilih pun kita juga telah memilih.</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Kemarin malam, seorang teman, berbicara tentang sebuah pilihan. Ia mengatakan kepada kami kalau ia sedang galau. Sudah lama ia ingin meninggalkan dunia kelam yang selama ini ia kenal, dan alhamdulillah di Ramadhan ini ia berhasil meninggalkan dengan bertahap. Namun ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia masih berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa ia dulu <i>dibesarkan</i> dalam lingkungan <i>kelam</i> tersebut, sehingga ia merasa berhutang budi.</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Oleh karenanya ketika teman masa lalunya berniat mengajaknya kembali ke kehidupan masa lalu dengan mengajaknya melakukan hal yang tidak baik, ia merasa bersalah. Ia ragu. Ia lalu berkata padaku &#8220;Komunitas kami penuh dengan kesetiakawanan dan solidaritas. Saya merasa tidak tahu budi. Sebab mereka banyak membantu saya&#8221;</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku menyimak, merenung aku menamakannya dengan ukhuwah. Lantas terlintas olehku sebuah komunitas yang dulu pernah kumasuki, di masa lalu yang hampir sama dengan komunitasnya. Akan tetapi justru dalam komunitasku inilah aku mengenal dan belajar tentang sebuah arti kepercayaan diri dan sebuah izzatun muslimah, harga diri seorang muslimah. Aku belajar bagaimana cara bersikap dan berprinsip, tentu saja prinsip sebagai muslimah. Manakala anggota putri yang lain bersedia bersalaman -yang mungkin bagi banyak orang masih menganggap ini wajar dan diperbolehkan- aku tidak, dan alhamdulillah mereka menghargaiku seperti itu. Mereka tidak mengajakku bersalaman, ini contoh kecil saja. Sehingga pada saat itu aku benar-benar merasa diterima sebagaimana aku apa adanya, namun diperlakukan seharusnya aku.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku lantas bertanya pada temanku itu, &#8220;Kamu benar ingin kembali jadi baik?&#8221;</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia terdiam, &#8220;Ya..tapi,&#8221;, &#8220;Saya bingung harus bagaimana&#8221;</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku menghela nafas, ini memang bukan hal yang mudah. &#8220;Katakan pada mereka, kamu ingin berubah. Kamu tetap ingin berteman dengan mereka tapi dengan keadaan seperti sekarang.&#8221;</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">&#8220;Sulit, ini pilihan yang sulit.&#8221; ia menunduk dalam.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">&#8220;Dengar,&#8221; kataku &#8220;Hidup ini adalah pilihan tidak memilih pun kamu sudah memilih. Jadi lebih baik kamu memilih yang kamu yakini.&#8221;</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia menatap kosong. &#8220;Tapi sebentar lagi mereka mau ke sini,..saya tidak ingin niat saya berubah di bulan Ramadhan ini ternoda.&#8221;</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku merasakan hatinya sakit karena ketidakberdayaannya.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">&#8220;Biar aku yang temui mereka.&#8221; kata salah seorang teman yang ikut berbincang bersama kami.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia mengangguk tidak pasti. Aku mengangguk.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Tiba-tiba dua orang datang ke arah kami, memanggil nama temanku. Kami menoleh terkejut, aku takut, dan sungguh kuatir. Mereka tal kalah terkejut melihat keberadaanku.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">&#8220;Kamu yang bisa menentukan..&#8221; ucapku pelan.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">&#8220;Bagaimana? Jadi tidak?&#8221; tanya salah seorang dari mereka.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Temanku bingung, menatapku dan temannya bergantian. Aku berdoa, Ya Allah jagalah ia.</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Galau ia menjawab, &#8220;Ayo!&#8221;</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku pias, &#8220;Aku harus segera pergi. Pamit dulu.&#8221; aku lantas berdiri. &#8220;Yuk semua aku duluan.&#8221;</font><font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ia menunduk, &#8220;Ya, kamu memang harus segera pergi.&#8221;</font> <font size="1"><br /></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Aku merasa sedih&#8230;tapi kembali ku tersadar semua sudah menjadi skenario-Nya yang terbaik. Tak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa seizin-Nya.</font><font size="1"></p>
<p></font> <font style="color: #cc33cc" size="1">Ramadhan/ Syawal 1427 H</font>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/05/sebuah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Moral Force</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/05/moral-force/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/05/moral-force/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 18:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center"><br /></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Amenangi zaman edan</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Ewuh aya ing pambudi</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Melu edan ora nahan</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Yen tan melu anglakoni</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Boya kaduma melik</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Kaliren wekasipun</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Ndilalah kersa Allah</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Sakbegja-begjane wong lali</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Luwih begja kang eling lan waspada</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><i><font style="line-height: 150%" size="11"><font size="2">(RM Ranggawarsito dalam Serat Kalatido, salah satu cuplikan tembang Sinom)</font></font></i></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify">Begitulah keadaan dunia sekarang ini. Penuh dengan ketimpangan, yang baik dicela dan yang buruk dipuji. Indonesia, bangsa yang memiliki <i>local genius</i> bahkan mulai kehilangan arah sebab anak bangsa mulai melupakan nilai-nilai yang membuat bangsa ini besar. Sehingga ketika bahtera bangsa ini oleng, serta merta banyak orang mengatakan “Bangsa ini telah lama berkiblat ke barat, sekarang kita harus kembali ke timur”.<br />
&#160;&#160;&#160; Ya, karena bangsa Indonesia merasa sebagai orang timur yakni bangsa yang digambarkan mempunyai tata aturan yang penuh kesopanan, adab, tata krama, dsb. Berbeda dengan istilah barat yang digambarkan sebagai sosok bangsa yang kurang beradab. Padahal dalam buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis dikatakan bahwasanya manusia Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagaimana manusia pada umumya yakni mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal yang unik dari manusia Indonesia adalah bahwa manusia Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang mempunyai kepercayaan. Itulah alasan saat ini manusia Indonesia menganggap bahwa agama adalah nilai moral tertinggi. Ini dibuktikan bahwa setiap warga Indonesia wajib menuliskan agama yang dianut, meski tidak dapat menjamin perilaku mereka menjadi lebih baik. Agama dianggap sebagai nilai moral tertinggi karena dalam agama mereka mempercayai adanya nilai-nilai dan aturan yang mengatur hidup mereka lebih baik.&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral, <i>local genius</i>, bangsa Indonesia telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya namun tetap padu. Hingga budaya dari luar pun disaring dengan baik sesuai dengan kepribadian bangsa dan akhirnya menambah khasanah budaya. Seperti tokoh Srikandhi yang dikenal oleh bangsa Indonesia (masyarakat Jawa) sebagai sosok pahlawan wanita yang heroik, sesungguhnya merupakan tokoh lelaki yang feminim; demikian kisah aslinya dari serat Mahabarata. Nilai-nilai moral bangsa Indonesia menolak adanya pernikahan sejenis (Janaka-Srikandhi) oleh karenanya tokoh Srikandhi yang lelaki diganti menjadi perempuan.&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral ini akan sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab kekuatan moral inilah yang merupakan ciri utama kepribadian bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang ramah dan toleran. Toleran tidak dapat diartikan bahawa Indonesia tidak mempunyai prinsip, sebagaimana netral tidak memihak. Akan tetapi kita tetap harus memihak yang benar.<br />
&#160;&#160;&#160; Secara ideologi indonesia tidak termasuk dunia barat (dunia kesatu) maupun dunia timur (dunia kedua) melainkan dunia ke tiga. Dunia petama menganut kapitalis, timur sosialis sedangkan dunia ketiga ialah negara yang tidak menganut kapitalis dan sosialis atau bahkan negara yang memadukan keduanya. <font lang="IN" xml:lang="IN">Max Weber dalam Budiman</font> <font lang="SV" xml:lang="SV">(</font><font lang="IN" xml:lang="IN">2000:37) mengemukakan t</font><font lang="SV" xml:lang="SV">eori pembangunan dunia ketiga yakni teori modernisasi yang menyatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang, pembangunan dunia ketiga menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan</font>.<br />
&#160;&#160;&#160; Salah satu bukti <font style="font-style: italic"><font style="font-style: italic"><font style="font-style: italic">l</font></font></font><i>ocal genius</i> yang dimiliki ulama Islam di awal penyebaran Islam yang mampu memadukan unsur Islam dengan budaya, tentu saja dalam batasan <i>syar’iyah</i>. Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai kesatuan nilai moral antara Islam dan budaya Indonesia ini sangat penting untuk membangun kekuatan moral dalam mengatasi segala permasalahan bangsa.<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral dalam membangun masyarakat dapat dikaji dari Al Quran surat Ali Imron: 110. <i>Kuntum khairo ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuuna billahi</i>. Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (Ali ‘Imran, 3:110). Ayat ini mengandung ajaran nilai moral yakni humanisasi (<i>amar ma’ruf</i>, memanusiakan manusia), liberasi (<i>nahi munkar</i>, pembebasan dari hal yang buruk) dan transendental (<i>tu’minu billah</i>, keimanan pada Allah Swt.).<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral ini berasal dari humanisasi yakni memanusiakan manusia. Mochtar Lubis (2001: 76) “Saya usulkan kita di Indonesia bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia kita”. Sikap bebas yang tanpa aturan hanya akan menciptakan dehumanisasi. Sedangkan aturan yang mengekang hanya akan menjadikan manusia yang dogmatis.<br />
&#160;&#160;&#160; Agama mengajarkan nilai moral tertinggi dengan mengatur segala peri kehidupan manusia baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Semoga menjadi sebuah kesadaran bahwa <i>Reeds in de eenvoudigiste stadien van sanienleving wordt de mensch zich bewust dat hij lets verschuldigd is</i>, pentingnya hidup bersama sudah menjadi kesadaran manusia, sehingga ia harus mau menerima kewajibannya (<i>In de Schaduwen van Morgen, Huzinga</i>), baik sebagai manusia maupun hamba Allah.<br />
&#160;&#160;&#160; Demikian Allah Swt. mengajar manusia dengan qalam (firman) –Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right">Agustin Tri Astuti</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right">Mahasiswa BSI 2003</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right">(Koordinator Komisi Advokasi DPM FBS 2006)</p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Amenangi zaman edan</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Ewuh aya ing pambudi</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Melu edan ora nahan</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Yen tan melu anglakoni</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Boya kaduma melik</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Kaliren wekasipun</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Ndilalah kersa Allah</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Sakbegja-begjane wong lali</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><font size="2"><i><font style="line-height: 150%">Luwih begja kang eling lan waspada</font></i></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"><i><font style="line-height: 150%" size="11"><font size="2">(RM Ranggawarsito dalam Serat Kalatido, salah satu cuplikan tembang Sinom)</font></font></i></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify">Begitulah keadaan dunia sekarang ini. Penuh dengan ketimpangan, yang baik dicela dan yang buruk dipuji. Indonesia, bangsa yang memiliki <i>local genius</i> bahkan mulai kehilangan arah sebab anak bangsa mulai melupakan nilai-nilai yang membuat bangsa ini besar. Sehingga ketika bahtera bangsa ini oleng, serta merta banyak orang mengatakan “Bangsa ini telah lama berkiblat ke barat, sekarang kita harus kembali ke timur”.<br />
&#160;&#160;&#160; Ya, karena bangsa Indonesia merasa sebagai orang timur yakni bangsa yang digambarkan mempunyai tata aturan yang penuh kesopanan, adab, tata krama, dsb. Berbeda dengan istilah barat yang digambarkan sebagai sosok bangsa yang kurang beradab. Padahal dalam buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis dikatakan bahwasanya manusia Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagaimana manusia pada umumya yakni mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal yang unik dari manusia Indonesia adalah bahwa manusia Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang mempunyai kepercayaan. Itulah alasan saat ini manusia Indonesia menganggap bahwa agama adalah nilai moral tertinggi. Ini dibuktikan bahwa setiap warga Indonesia wajib menuliskan agama yang dianut, meski tidak dapat menjamin perilaku mereka menjadi lebih baik. Agama dianggap sebagai nilai moral tertinggi karena dalam agama mereka mempercayai adanya nilai-nilai dan aturan yang mengatur hidup mereka lebih baik.&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral, <i>local genius</i>, bangsa Indonesia telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya namun tetap padu. Hingga budaya dari luar pun disaring dengan baik sesuai dengan kepribadian bangsa dan akhirnya menambah khasanah budaya. Seperti tokoh Srikandhi yang dikenal oleh bangsa Indonesia (masyarakat Jawa) sebagai sosok pahlawan wanita yang heroik, sesungguhnya merupakan tokoh lelaki yang feminim; demikian kisah aslinya dari serat Mahabarata. Nilai-nilai moral bangsa Indonesia menolak adanya pernikahan sejenis (Janaka-Srikandhi) oleh karenanya tokoh Srikandhi yang lelaki diganti menjadi perempuan.&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral ini akan sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab kekuatan moral inilah yang merupakan ciri utama kepribadian bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang ramah dan toleran. Toleran tidak dapat diartikan bahawa Indonesia tidak mempunyai prinsip, sebagaimana netral tidak memihak. Akan tetapi kita tetap harus memihak yang benar.<br />
&#160;&#160;&#160; Secara ideologi indonesia tidak termasuk dunia barat (dunia kesatu) maupun dunia timur (dunia kedua) melainkan dunia ke tiga. Dunia petama menganut kapitalis, timur sosialis sedangkan dunia ketiga ialah negara yang tidak menganut kapitalis dan sosialis atau bahkan negara yang memadukan keduanya. <font lang="IN" xml:lang="IN">Max Weber dalam Budiman</font> <font lang="SV" xml:lang="SV">(</font><font lang="IN" xml:lang="IN">2000:37) mengemukakan t</font><font lang="SV" xml:lang="SV">eori pembangunan dunia ketiga yakni teori modernisasi yang menyatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang, pembangunan dunia ketiga menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan</font>.<br />
&#160;&#160;&#160; Salah satu bukti <font style="font-style: italic"><font style="font-style: italic"><font style="font-style: italic">l</font></font></font><i>ocal genius</i> yang dimiliki ulama Islam di awal penyebaran Islam yang mampu memadukan unsur Islam dengan budaya, tentu saja dalam batasan <i>syar’iyah</i>. Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai kesatuan nilai moral antara Islam dan budaya Indonesia ini sangat penting untuk membangun kekuatan moral dalam mengatasi segala permasalahan bangsa.<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral dalam membangun masyarakat dapat dikaji dari Al Quran surat Ali Imron: 110. <i>Kuntum khairo ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuuna billahi</i>. Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (Ali ‘Imran, 3:110). Ayat ini mengandung ajaran nilai moral yakni humanisasi (<i>amar ma’ruf</i>, memanusiakan manusia), liberasi (<i>nahi munkar</i>, pembebasan dari hal yang buruk) dan transendental (<i>tu’minu billah</i>, keimanan pada Allah Swt.).<br />
&#160;&#160;&#160; Kekuatan moral ini berasal dari humanisasi yakni memanusiakan manusia. Mochtar Lubis (2001: 76) “Saya usulkan kita di Indonesia bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia kita”. Sikap bebas yang tanpa aturan hanya akan menciptakan dehumanisasi. Sedangkan aturan yang mengekang hanya akan menjadikan manusia yang dogmatis.<br />
&#160;&#160;&#160; Agama mengajarkan nilai moral tertinggi dengan mengatur segala peri kehidupan manusia baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Semoga menjadi sebuah kesadaran bahwa <i>Reeds in de eenvoudigiste stadien van sanienleving wordt de mensch zich bewust dat hij lets verschuldigd is</i>, pentingnya hidup bersama sudah menjadi kesadaran manusia, sehingga ia harus mau menerima kewajibannya (<i>In de Schaduwen van Morgen, Huzinga</i>), baik sebagai manusia maupun hamba Allah.<br />
&#160;&#160;&#160; Demikian Allah Swt. mengajar manusia dengan qalam (firman) –Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right">Agustin Tri Astuti</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right">Mahasiswa BSI 2003</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right">(Koordinator Komisi Advokasi DPM FBS 2006)</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/02/05/moral-force/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sua sahabatku, ukhti Danik</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/31/sua-sahabatku-ukhti-danik/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/31/sua-sahabatku-ukhti-danik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 20:46:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Malam ini semakin dingin, setelah gerimis bertandang dua hari ini. Teringat seorang sahabat yang tengah tergolek di Rumah sakit karena kecelakaan, seorang sahabat yang selalu tersenyum untukku, yang ketika capai justru malah menawarkan bahunya untukku. Sungguh, sore tadi, ketika sisa sinar matahari masih tinggal merah di mega yang mendung aku melihat senyumnya...lalu hati ini jadi membiru.<br />
<br />
"Cepat sembuh ya Ukhti chay, I loph u coz of Allah"<br />
<br />
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Malam ini semakin dingin, setelah gerimis bertandang dua hari ini. Teringat seorang sahabat yang tengah tergolek di Rumah sakit karena kecelakaan, seorang sahabat yang selalu tersenyum untukku, yang ketika capai justru malah menawarkan bahunya untukku. Sungguh, sore tadi, ketika sisa sinar matahari masih tinggal merah di mega yang mendung aku melihat senyumnya&#8230;lalu hati ini jadi membiru.</p>
<p>&#8220;Cepat sembuh ya Ukhti chay, I loph u coz of Allah&#8221;</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/31/sua-sahabatku-ukhti-danik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MAHASISWA DAN SAMPAH</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/31/mahasiswa-dan-sampah/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/31/mahasiswa-dan-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 20:31:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify">“Mahasiswa kok membuang sampah sembarangan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify">Kata itu sempat terlintas ketika terlihat seorang mahasiswa membuang sampah sembarangan setelah makan kudapan, padahal tidak jauh dari ia berdiri ada tempat sampah. Rasanya kurang pantas seorang mahasiswa yang dianggap sebagai bagian dari generasi pewaris negeri, calon pemimpin bangsa, dan sederet harapan bangsa yang tersandang di pundaknya ternyata tidak peduli terhadap lingkungan. Sebenarnya peduli lingkungan tidak hanya kewajiban mahasiswa saja, terlebih mahasiswa pecinta alam, namun sebagian besar orang berasumsi bahwa mahasiswa seharusnya lebih bisa memberikan keteladanan bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, misanya membuang sampah pada tempatnya.<br />
&#160;&#160;&#160; Gelar mahasiswa bukanlah hal yang mudah didapatkan dan hanya untuk dibanggakan, gelar mahasiswa mengandung tanggung jawab yang lebih besar yakni ketika idealismenya serta tindak-tanduknya menjadi sorotan. Masyarakat menilai mahasiswa, yang merupakan bagian dari generasi muda, merupakan ujung tombak perjuangan bangsa. Sejarah membuktikan dalam setiap perjuangan bangsa, pemuda senantiasa menorehkan tinta emas.<br />
&#160;&#160;&#160; Terkait dengan hal tersebut patut disayangkan ketika ada seorang mahasiswa yang di sisi lain menyuarakan kepentingan rakyat dan mahasiswa, mengadakan seminar, menyelenggarakan pentas seni, mengikuti lomba ilmiah, menyemarakkan kampus dengan berbagai warna sementara di sisi lain ia bahkan tidak peduli dengan lingkungannya. Oleh karena itu jika nantinya ada masyarakat yang tidak peduli lingkungan bisa jadi karena ia melihat bahwa mahasiswa yang seharusnya bisa dijadikan teladan pun tidak melakukannnya. Semoga hanya suatu kekuatiran saja manakala ada mahasiswa yang tidak peduli lingkungan mengadakan acara atau kegiatan maka acara atau kegiatan itu hanya untuk menjalankan program kerja organisasi bukan karena karena peduli terhadap kondisi sivitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Bagaimana ia mau peduli pada orang lain? Jika pada dirinya termasuk lingkungan yang menjadi tempat ia bernaung, ia tidak peduli. Seperti kekuatiran saya setelah menyaksikan tayangan “Selamat Pagi” di TV7 beberapa hari lalu bahwa ternyata Duta Lingkungan Hidup, Marshanda, bahkan tidak pernah <i>membuang sampah</i> di rumahnya (membersihkan rumah dari sampah-pen).&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Suatu kali saya dan tim Unnes pernah berkesempatan mengikuti kegiatan berdampingan dengan tim IPB (Institut Pertanian Bogor). Kami mengikuti kegiatan yang sama dari awal sampai akhir, makan dengan kudapan yang sama, duduk di tempat yang sama hingga di akhir kegiatan terlihat perbedaan yang membuat miris. Tim IPB meninggalkan ruangan dalam keadaan seperti semula, rapi dan bersih. Sampah bekas kudapan mereka letakkan di pojok ruangan, botol minuman pun mereka tata, terlintas seperti belum dimakan. Berbeda ketika melihat keadaan kami. Saya percaya tidak semua anggota tim Unnes tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan hanya saja terkadang orang berpikiran sebagian besar itu mewakili semuanya.<br />
&#160;&#160;&#160; Tidak itu saja, bahkan setelah membeli makanan ringan masih sering didapati mahasiswa yang membuang sampah yang tidak pada tempatnya, terkadang dibiarkan terserak begitu saja. Bukan hal yang dibesar-besarkan manakala para <i>cleaning service</i> mengeluh tentang kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan kampus. Memang benar adanya mereka dibayar untuk membantu membersihkan kampus, tetapi kebersihan, kerapian, dan kelestarian lingkungan kampus merupakan tanggung jawab bersama. Minimal biasakan membuang sampah pada tempatnya. Kita harus ingat, bumi ini bukan tempat sampah.<br />
&#160;&#160;&#160; Masih terekam di benak saya slogan yang diucapkan Duta Pramuka Internasional saat menghadiri Perkemahan Bakti Saka Wana Bakti Daerah Jawa Tengah even-Sumatra-Jawa-Bali tahun 2001 di Baturraden, Jawa Tengah, “No Forest No Future”. Slogan tersebut mengingatkan kita agar selalu menjaga alam dan melestarikannya karena alam ini merupakan suatu ekosistem yang saling terkait dan bergantung satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu sebelum pohon terakhir tertebang, sebelum sungai terakhir kotor, sebelum udara terakhir beracun marilah kita bersama menjaga lingkungan kita. Mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang karena kebersihan juga sebagian dari iman.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">Agustin T. A.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">Anggota IPDS (Ikatan Purna Dewan Saka) Wana Bakti Kwarcab XI.23</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">(Pernah dipublikasikan di Buletin "REPLIKA" BEM KM Unnes vol. 2 pada bulan September 2007)<br /></p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify">“Mahasiswa kok membuang sampah sembarangan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify">Kata itu sempat terlintas ketika terlihat seorang mahasiswa membuang sampah sembarangan setelah makan kudapan, padahal tidak jauh dari ia berdiri ada tempat sampah. Rasanya kurang pantas seorang mahasiswa yang dianggap sebagai bagian dari generasi pewaris negeri, calon pemimpin bangsa, dan sederet harapan bangsa yang tersandang di pundaknya ternyata tidak peduli terhadap lingkungan. Sebenarnya peduli lingkungan tidak hanya kewajiban mahasiswa saja, terlebih mahasiswa pecinta alam, namun sebagian besar orang berasumsi bahwa mahasiswa seharusnya lebih bisa memberikan keteladanan bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, misanya membuang sampah pada tempatnya.<br />
&#160;&#160;&#160; Gelar mahasiswa bukanlah hal yang mudah didapatkan dan hanya untuk dibanggakan, gelar mahasiswa mengandung tanggung jawab yang lebih besar yakni ketika idealismenya serta tindak-tanduknya menjadi sorotan. Masyarakat menilai mahasiswa, yang merupakan bagian dari generasi muda, merupakan ujung tombak perjuangan bangsa. Sejarah membuktikan dalam setiap perjuangan bangsa, pemuda senantiasa menorehkan tinta emas.<br />
&#160;&#160;&#160; Terkait dengan hal tersebut patut disayangkan ketika ada seorang mahasiswa yang di sisi lain menyuarakan kepentingan rakyat dan mahasiswa, mengadakan seminar, menyelenggarakan pentas seni, mengikuti lomba ilmiah, menyemarakkan kampus dengan berbagai warna sementara di sisi lain ia bahkan tidak peduli dengan lingkungannya. Oleh karena itu jika nantinya ada masyarakat yang tidak peduli lingkungan bisa jadi karena ia melihat bahwa mahasiswa yang seharusnya bisa dijadikan teladan pun tidak melakukannnya. Semoga hanya suatu kekuatiran saja manakala ada mahasiswa yang tidak peduli lingkungan mengadakan acara atau kegiatan maka acara atau kegiatan itu hanya untuk menjalankan program kerja organisasi bukan karena karena peduli terhadap kondisi sivitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Bagaimana ia mau peduli pada orang lain? Jika pada dirinya termasuk lingkungan yang menjadi tempat ia bernaung, ia tidak peduli. Seperti kekuatiran saya setelah menyaksikan tayangan “Selamat Pagi” di TV7 beberapa hari lalu bahwa ternyata Duta Lingkungan Hidup, Marshanda, bahkan tidak pernah <i>membuang sampah</i> di rumahnya (membersihkan rumah dari sampah-pen).&#160;&#160;<br />
&#160;&#160;&#160; Suatu kali saya dan tim Unnes pernah berkesempatan mengikuti kegiatan berdampingan dengan tim IPB (Institut Pertanian Bogor). Kami mengikuti kegiatan yang sama dari awal sampai akhir, makan dengan kudapan yang sama, duduk di tempat yang sama hingga di akhir kegiatan terlihat perbedaan yang membuat miris. Tim IPB meninggalkan ruangan dalam keadaan seperti semula, rapi dan bersih. Sampah bekas kudapan mereka letakkan di pojok ruangan, botol minuman pun mereka tata, terlintas seperti belum dimakan. Berbeda ketika melihat keadaan kami. Saya percaya tidak semua anggota tim Unnes tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan hanya saja terkadang orang berpikiran sebagian besar itu mewakili semuanya.<br />
&#160;&#160;&#160; Tidak itu saja, bahkan setelah membeli makanan ringan masih sering didapati mahasiswa yang membuang sampah yang tidak pada tempatnya, terkadang dibiarkan terserak begitu saja. Bukan hal yang dibesar-besarkan manakala para <i>cleaning service</i> mengeluh tentang kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan kampus. Memang benar adanya mereka dibayar untuk membantu membersihkan kampus, tetapi kebersihan, kerapian, dan kelestarian lingkungan kampus merupakan tanggung jawab bersama. Minimal biasakan membuang sampah pada tempatnya. Kita harus ingat, bumi ini bukan tempat sampah.<br />
&#160;&#160;&#160; Masih terekam di benak saya slogan yang diucapkan Duta Pramuka Internasional saat menghadiri Perkemahan Bakti Saka Wana Bakti Daerah Jawa Tengah even-Sumatra-Jawa-Bali tahun 2001 di Baturraden, Jawa Tengah, “No Forest No Future”. Slogan tersebut mengingatkan kita agar selalu menjaga alam dan melestarikannya karena alam ini merupakan suatu ekosistem yang saling terkait dan bergantung satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu sebelum pohon terakhir tertebang, sebelum sungai terakhir kotor, sebelum udara terakhir beracun marilah kita bersama menjaga lingkungan kita. Mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang karena kebersihan juga sebagian dari iman.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">Agustin T. A.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">Anggota IPDS (Ikatan Purna Dewan Saka) Wana Bakti Kwarcab XI.23</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%">(Pernah dipublikasikan di Buletin &#8220;REPLIKA&#8221; BEM KM Unnes vol. 2 pada bulan September 2007)</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/31/mahasiswa-dan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lost in the..</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/28/lost-in-the/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/28/lost-in-the/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 11:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Sore itu setelah rapat suatu kegiatan. Aku dan teman-teman menyempatkan berdiskusi tentang rencana kegiatan yang akan kami laksanakan. Setelah berdiskusi agak lama salah seorang temanku, keluar dari tempat rapat dengan tergesa-gesa. Ia mencari-cari sesuatu di deretan motor yang diparkir.</span></font>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Loh! Motorku kok ilang?” ia berseru.</span></font>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Teman-temanku yang lain saling berpandangan. Lantas ada yang menyeletuk.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Motormu</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">kan</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">baru dipinjam.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Ia terdiam. “Oh ya lupa.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kami tertawa. Oalah..</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kali waktu yang lain saat kami mau rapat, kebetulan iai terlambat datang, padahal ia yang memimpin rapat. Setelah duduk di depan ia terlihat bingung.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Ada</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">apa?” tanya anggota rapat.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Waduh, tasku di mana ya?” ia bingung mencari di ruangan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Aku mengucap lirih, “Perasaan dia masuk tidak membawa tas.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Temanku menyampaikan “Tadi kamu masuk tidak bawa tas.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Ia sekilas bingung ia lalu keluar, “Rapat dilanjutkan dulu ya.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Tak berapa lama ia kembali dengan tas sambil cengar-cengir.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Ketemu di mana?” tanya kami.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Di tempat rapat yang lain.” Ia meringis.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kami terdiam sambil geleng-geleng. How come prend?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Salah satu Episode Laskar Cinta 1428 H</span></font></p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Sore itu setelah rapat suatu kegiatan. Aku dan teman-teman menyempatkan berdiskusi tentang rencana kegiatan yang akan kami laksanakan. Setelah berdiskusi agak lama salah seorang temanku, keluar dari tempat rapat dengan tergesa-gesa. Ia mencari-cari sesuatu di deretan motor yang diparkir.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Loh! Motorku kok ilang?” ia berseru.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Teman-temanku yang lain saling berpandangan. Lantas ada yang menyeletuk.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Motormu</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">kan</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">baru dipinjam.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Ia terdiam. “Oh ya lupa.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kami tertawa. Oalah..</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kali waktu yang lain saat kami mau rapat, kebetulan iai terlambat datang, padahal ia yang memimpin rapat. Setelah duduk di depan ia terlihat bingung.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“</span><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Ada</span> <span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">apa?” tanya anggota rapat.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Waduh, tasku di mana ya?” ia bingung mencari di ruangan.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Aku mengucap lirih, “Perasaan dia masuk tidak membawa tas.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Temanku menyampaikan “Tadi kamu masuk tidak bawa tas.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Ia sekilas bingung ia lalu keluar, “Rapat dilanjutkan dulu ya.”</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Tak berapa lama ia kembali dengan tas sambil cengar-cengir.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Ketemu di mana?” tanya kami.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">“Di tempat rapat yang lain.” Ia meringis.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kami terdiam sambil geleng-geleng. How come prend?</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font face="comic sans ms,sand" size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Salah satu Episode Laskar Cinta 1428 H</span></font></p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/28/lost-in-the/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Misteri Motor yang hilang..</title>
		<link>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/28/misteri-motor-yang-hilang/</link>
		<comments>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/28/misteri-motor-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 11:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ata</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&#160;&#160;&#160; Hari itu tanggal 28 September 2006 aku masih ingat, hari itu acara buka bersama Ling Art, salah satu lembaga kemahasiswaan di FBS. Kami mengadakan buka bersama sekaligus persiapan pembuatan PKM (Program Kegiatan Mahsiswa) suatu lomba karya tulis mahasiswa tingkat nasional. Telah hadir birokrat, beberapa dosen, dan mahasiswa. Untung tidak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Saat adzan Maghrib minuman pembuka belum sampai terpaksa aku berlari-lari mengambil. Alhamdulillah sudah dapat diatasi. Meski dapat sindiran dari birokrat. Tidak mengapa…<br />
&#160;&#160;&#160; Setelah selesai aku dan Nae bermaksud ke UKM Riptek untuk mengembalikan flash disk yang kami pinjam, sudah janji mau mengembalikan ba’da Maghrib. Aku lalu pinjam kunci motor Tezar, sampai di tempat parkir kulihat dua motor satu bertuliskan Kiss dan yang satu polos. Aku berasumsi yang bertuliskan Kiss tentu milik Kis salah seorang pengurus Ling Art. Jadi otomatis yang satu tentunya milik Tezar.<br />
&#160;&#160;&#160; Dengan kecepatan tinggi aku diboncengkan Nae melesat ke UKM Riptek, hingga sampai di kawasan UKM tersebut kami sempat hampir jatuh karena salah jalan sudah demikian di depan Mushola FIS, banyak ikhwan baru sholat Maghrib. Alhamdulillah flash disk sudah kami kembalikan. Kami segera kembali ke gedung Dekanat tempat acara berlangsung, lewat di depan gedung terlihat wajah bingung pak Tony, dosen pembimbing karya tulis; mas Syaifudin, ketua Ling Art sebelum aku; Tezar, Diwan, dan Kis. Aku melambaikan tangan layaknya Miss World sambil tersenyum. Rencananya setelah ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) FBS untuk bagi-bagi makanan aku baru ke Dekanat lagi. Tiba di PKM Nae pucat<br />
&#160;&#160;&#160; “Mbak, kuncinya hilang?”<br />
&#160;&#160;&#160; “Ya wis kita kembali susuri jalan.” Aku berniat kembali ke FIS.<br />
&#160;&#160;&#160; Lewat di gedung Dekanat mas Syaifudin mencegatku.<br />
&#160;&#160;&#160; “Dek, kamu bawa motornya siapa?”<br />
&#160;&#160;&#160; “Tezar.” Jawabku ringan.<br />
&#160;&#160;&#160; “Tu motornya pak Tony.” ujar mas Syaifudin, membuatku tidak enak dan kaget.<br />
&#160;&#160;&#160; “Tapi,..kok kunci motornya Tezar bisa masuk…” Nae membela diri, lemah.<br />
&#160;&#160;&#160; “Ini kunci saya. Saya bingung kok motor saya hilang padahal kuncinya ada di tas.” Kata pak Tony.<br />
&#160;&#160;&#160; “Saya lebih bingung lagi. Mbak pinjam kunci motor saya tapi kok motornya tidak dibawa.” imbuh Tezar<br />
&#160;&#160;&#160; Aku syok dan malu. “Waduh maaf ya…Salah ambil. Tapi kok kuncinya masuk.”<br />
&#160;&#160;&#160; Pak Tony mengangguk lantas segera pulang. Alhamdulillah..<br />
&#160;&#160;&#160; “Lha Mbak, kunciku?” pertanyaan dari Tezar buatku meringis.<br />
&#160;&#160;&#160; “Jatuh Dek, ntar ya mbak cari.”<br />
&#160;&#160;&#160; Tezar lemes, ia kos di Semarang bawah.<br />
&#160;&#160;&#160; “Kami cepet wis mencarinya.”<br />
&#160;&#160;&#160; “Aku bantu Mbak.” Diwan menawarkan bantuan.<br />
&#160;&#160;&#160; Akhirnya aku, Diwan, dan Nae seperti orang yang kehilangan uang menyusuri jalan gelap antara FBS dan FIP. Aku percaya jatuhnya di FIS, dekat mushola. Benar saja setelah kami melongok gorong-gorong depan mushola, terlihat kunci Tezar.<br />
&#160;&#160;&#160; “Alhamdulillah!” seruku tidak sadar, buatku malu. Baru ingat jika di mushola banyak ikhwan menanti waktu Isya. Apalagi aku bersama Nae dan seorang cowok. Buru-buru aku mengajak mereka pulang.<br />
&#160;&#160;&#160; Di tengah perjalanan Diwan bercerita.<br />
&#160;&#160;&#160; “Waktu pak Tony mau pulang pak Tony kaget ‘Lho motor saya kok hilang. Padahal kuncinya ada di tas’, Tezar lebih kaget tapi ia berbisik pelan ‘Lho motorku kok masih ada kuncinya dibawa mbak Ta, katanya mau pinjam motor.’ Kami kira ada yang mencuri eh mbak Ta datang bersama Nae dengan pede melambaikan tangan berlagak jadi Miss World lagi. Pede banget.” Ia tertawa dibarengi Nae.<br />
&#160;&#160;&#160; Aku sendiri tersenyum kecut menyadari kesalahanku. Wah jadi pencuri korban keadaan nih.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
&#160;&#160;&#160; "<font size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Eh mbak ngomong-ngomong jika motor pak Tony bisa dibawa mbak, berarti motor pak Tony rawan dicuri ya?” Diwan berkata lirih.</span></font>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<font size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Aku dan Nae berpandangan. “Bukan kami loh!”<br />
<br />
<br />
(Ini kejadian nyata, nama pelaku sengaja disamarkan..</span></font><img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-smile.gif" alt="Smile" title="Smile" border="0" />, lovely Ling Art "CENDEKIA UNGU")
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify"><font size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&#160;&#160;&#160; Hari itu tanggal 28 September 2006 aku masih ingat, hari itu acara buka bersama Ling Art, salah satu lembaga kemahasiswaan di FBS. Kami mengadakan buka bersama sekaligus persiapan pembuatan PKM (Program Kegiatan Mahsiswa) suatu lomba karya tulis mahasiswa tingkat nasional. Telah hadir birokrat, beberapa dosen, dan mahasiswa. Untung tidak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Saat adzan Maghrib minuman pembuka belum sampai terpaksa aku berlari-lari mengambil. Alhamdulillah sudah dapat diatasi. Meski dapat sindiran dari birokrat. Tidak mengapa…<br />
&#160;&#160;&#160; Setelah selesai aku dan Nae bermaksud ke UKM Riptek untuk mengembalikan flash disk yang kami pinjam, sudah janji mau mengembalikan ba’da Maghrib. Aku lalu pinjam kunci motor Tezar, sampai di tempat parkir kulihat dua motor satu bertuliskan Kiss dan yang satu polos. Aku berasumsi yang bertuliskan Kiss tentu milik Kis salah seorang pengurus Ling Art. Jadi otomatis yang satu tentunya milik Tezar.<br />
&#160;&#160;&#160; Dengan kecepatan tinggi aku diboncengkan Nae melesat ke UKM Riptek, hingga sampai di kawasan UKM tersebut kami sempat hampir jatuh karena salah jalan sudah demikian di depan Mushola FIS, banyak ikhwan baru sholat Maghrib. Alhamdulillah flash disk sudah kami kembalikan. Kami segera kembali ke gedung Dekanat tempat acara berlangsung, lewat di depan gedung terlihat wajah bingung pak Tony, dosen pembimbing karya tulis; mas Syaifudin, ketua Ling Art sebelum aku; Tezar, Diwan, dan Kis. Aku melambaikan tangan layaknya Miss World sambil tersenyum. Rencananya setelah ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) FBS untuk bagi-bagi makanan aku baru ke Dekanat lagi. Tiba di PKM Nae pucat<br />
&#160;&#160;&#160; “Mbak, kuncinya hilang?”<br />
&#160;&#160;&#160; “Ya wis kita kembali susuri jalan.” Aku berniat kembali ke FIS.<br />
&#160;&#160;&#160; Lewat di gedung Dekanat mas Syaifudin mencegatku.<br />
&#160;&#160;&#160; “Dek, kamu bawa motornya siapa?”<br />
&#160;&#160;&#160; “Tezar.” Jawabku ringan.<br />
&#160;&#160;&#160; “Tu motornya pak Tony.” ujar mas Syaifudin, membuatku tidak enak dan kaget.<br />
&#160;&#160;&#160; “Tapi,..kok kunci motornya Tezar bisa masuk…” Nae membela diri, lemah.<br />
&#160;&#160;&#160; “Ini kunci saya. Saya bingung kok motor saya hilang padahal kuncinya ada di tas.” Kata pak Tony.<br />
&#160;&#160;&#160; “Saya lebih bingung lagi. Mbak pinjam kunci motor saya tapi kok motornya tidak dibawa.” imbuh Tezar<br />
&#160;&#160;&#160; Aku syok dan malu. “Waduh maaf ya…Salah ambil. Tapi kok kuncinya masuk.”<br />
&#160;&#160;&#160; Pak Tony mengangguk lantas segera pulang. Alhamdulillah..<br />
&#160;&#160;&#160; “Lha Mbak, kunciku?” pertanyaan dari Tezar buatku meringis.<br />
&#160;&#160;&#160; “Jatuh Dek, ntar ya mbak cari.”<br />
&#160;&#160;&#160; Tezar lemes, ia kos di Semarang bawah.<br />
&#160;&#160;&#160; “Kami cepet wis mencarinya.”<br />
&#160;&#160;&#160; “Aku bantu Mbak.” Diwan menawarkan bantuan.<br />
&#160;&#160;&#160; Akhirnya aku, Diwan, dan Nae seperti orang yang kehilangan uang menyusuri jalan gelap antara FBS dan FIP. Aku percaya jatuhnya di FIS, dekat mushola. Benar saja setelah kami melongok gorong-gorong depan mushola, terlihat kunci Tezar.<br />
&#160;&#160;&#160; “Alhamdulillah!” seruku tidak sadar, buatku malu. Baru ingat jika di mushola banyak ikhwan menanti waktu Isya. Apalagi aku bersama Nae dan seorang cowok. Buru-buru aku mengajak mereka pulang.<br />
&#160;&#160;&#160; Di tengah perjalanan Diwan bercerita.<br />
&#160;&#160;&#160; “Waktu pak Tony mau pulang pak Tony kaget ‘Lho motor saya kok hilang. Padahal kuncinya ada di tas’, Tezar lebih kaget tapi ia berbisik pelan ‘Lho motorku kok masih ada kuncinya dibawa mbak Ta, katanya mau pinjam motor.’ Kami kira ada yang mencuri eh mbak Ta datang bersama Nae dengan pede melambaikan tangan berlagak jadi Miss World lagi. Pede banget.” Ia tertawa dibarengi Nae.<br />
&#160;&#160;&#160; Aku sendiri tersenyum kecut menyadari kesalahanku. Wah jadi pencuri korban keadaan nih.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p>&#160;&#160;&#160; &#8220;<font size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Eh mbak ngomong-ngomong jika motor pak Tony bisa dibawa mbak, berarti motor pak Tony rawan dicuri ya?” Diwan berkata lirih.</span></font></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
<p><font size="1"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Aku dan Nae berpandangan. “Bukan kami loh!”</p>
<p>
(Ini kejadian nyata, nama pelaku sengaja disamarkan..</span></font><img src="http://editor.blog.com/javascript/tinymce/plugins/emotions/images/smiley-smile.gif" alt="Smile" title="Smile" border="0" />, lovely Ling Art &#8220;CENDEKIA UNGU&#8221;)</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify">
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yangtakwantahmengeja.blog.com/2008/01/28/misteri-motor-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
