Tuesday, February 5, 2008

Sebuah Pilihan

Beberapa hari ini aku menyadari banyak hal, sebuah proses yang panjang untuk mengenal arti diri. Bukan hal yang mudah manakala kita harus memilih, sebab tidak memilih pun kita juga telah memilih.
Kemarin malam, seorang teman, berbicara tentang sebuah pilihan. Ia mengatakan kepada kami kalau ia sedang galau. Sudah lama ia ingin meninggalkan dunia kelam yang selama ini ia kenal, dan alhamdulillah di Ramadhan ini ia berhasil meninggalkan dengan bertahap. Namun ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia masih berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa ia dulu dibesarkan dalam lingkungan kelam tersebut, sehingga ia merasa berhutang budi.
Oleh karenanya ketika teman masa lalunya berniat mengajaknya kembali ke kehidupan masa lalu dengan mengajaknya melakukan hal yang tidak baik, ia merasa bersalah. Ia ragu. Ia lalu berkata padaku “Komunitas kami penuh dengan kesetiakawanan dan solidaritas. Saya merasa tidak tahu budi. Sebab mereka banyak membantu saya”
Aku menyimak, merenung aku menamakannya dengan ukhuwah. Lantas terlintas olehku sebuah komunitas yang dulu pernah kumasuki, di masa lalu yang hampir sama dengan komunitasnya. Akan tetapi justru dalam komunitasku inilah aku mengenal dan belajar tentang sebuah arti kepercayaan diri dan sebuah izzatun muslimah, harga diri seorang muslimah. Aku belajar bagaimana cara bersikap dan berprinsip, tentu saja prinsip sebagai muslimah. Manakala anggota putri yang lain bersedia bersalaman -yang mungkin bagi banyak orang masih menganggap ini wajar dan diperbolehkan- aku tidak, dan alhamdulillah mereka menghargaiku seperti itu. Mereka tidak mengajakku bersalaman, ini contoh kecil saja. Sehingga pada saat itu aku benar-benar merasa diterima sebagaimana aku apa adanya, namun diperlakukan seharusnya aku.
Aku lantas bertanya pada temanku itu, “Kamu benar ingin kembali jadi baik?”
Ia terdiam, “Ya..tapi,”, “Saya bingung harus bagaimana”
Aku menghela nafas, ini memang bukan hal yang mudah. “Katakan pada mereka, kamu ingin berubah. Kamu tetap ingin berteman dengan mereka tapi dengan keadaan seperti sekarang.”
“Sulit, ini pilihan yang sulit.” ia menunduk dalam.
“Dengar,” kataku “Hidup ini adalah pilihan tidak memilih pun kamu sudah memilih. Jadi lebih baik kamu memilih yang kamu yakini.”
Ia menatap kosong. “Tapi sebentar lagi mereka mau ke sini,..saya tidak ingin niat saya berubah di bulan Ramadhan ini ternoda.”
Aku merasakan hatinya sakit karena ketidakberdayaannya.
“Biar aku yang temui mereka.” kata salah seorang teman yang ikut berbincang bersama kami.
Ia mengangguk tidak pasti. Aku mengangguk.
Tiba-tiba dua orang datang ke arah kami, memanggil nama temanku. Kami menoleh terkejut, aku takut, dan sungguh kuatir. Mereka tal kalah terkejut melihat keberadaanku.
“Kamu yang bisa menentukan..” ucapku pelan.
“Bagaimana? Jadi tidak?” tanya salah seorang dari mereka.
Temanku bingung, menatapku dan temannya bergantian. Aku berdoa, Ya Allah jagalah ia.
Galau ia menjawab, “Ayo!”
Aku pias, “Aku harus segera pergi. Pamit dulu.” aku lantas berdiri. “Yuk semua aku duluan.”
Ia menunduk, “Ya, kamu memang harus segera pergi.”
Aku merasa sedih…tapi kembali ku tersadar semua sudah menjadi skenario-Nya yang terbaik. Tak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa seizin-Nya.

Ramadhan/ Syawal 1427 H

Posted by ata at 12:16:09
Comments

Leave a Reply