Amenangi zaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora nahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduma melik
Kaliren wekasipun
Ndilalah kersa Allah
Sakbegja-begjane wong lali
Luwih begja kang eling lan waspada
(RM Ranggawarsito dalam Serat Kalatido, salah satu cuplikan tembang Sinom)
Begitulah keadaan dunia sekarang ini. Penuh dengan ketimpangan, yang baik dicela dan yang buruk dipuji. Indonesia, bangsa yang memiliki local genius bahkan mulai kehilangan arah sebab anak bangsa mulai melupakan nilai-nilai yang membuat bangsa ini besar. Sehingga ketika bahtera bangsa ini oleng, serta merta banyak orang mengatakan “Bangsa ini telah lama berkiblat ke barat, sekarang kita harus kembali ke timur”.
Ya, karena bangsa Indonesia merasa sebagai orang timur yakni bangsa yang digambarkan mempunyai tata aturan yang penuh kesopanan, adab, tata krama, dsb. Berbeda dengan istilah barat yang digambarkan sebagai sosok bangsa yang kurang beradab. Padahal dalam buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis dikatakan bahwasanya manusia Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagaimana manusia pada umumya yakni mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal yang unik dari manusia Indonesia adalah bahwa manusia Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang mempunyai kepercayaan. Itulah alasan saat ini manusia Indonesia menganggap bahwa agama adalah nilai moral tertinggi. Ini dibuktikan bahwa setiap warga Indonesia wajib menuliskan agama yang dianut, meski tidak dapat menjamin perilaku mereka menjadi lebih baik. Agama dianggap sebagai nilai moral tertinggi karena dalam agama mereka mempercayai adanya nilai-nilai dan aturan yang mengatur hidup mereka lebih baik.
Kekuatan moral, local genius, bangsa Indonesia telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya namun tetap padu. Hingga budaya dari luar pun disaring dengan baik sesuai dengan kepribadian bangsa dan akhirnya menambah khasanah budaya. Seperti tokoh Srikandhi yang dikenal oleh bangsa Indonesia (masyarakat Jawa) sebagai sosok pahlawan wanita yang heroik, sesungguhnya merupakan tokoh lelaki yang feminim; demikian kisah aslinya dari serat Mahabarata. Nilai-nilai moral bangsa Indonesia menolak adanya pernikahan sejenis (Janaka-Srikandhi) oleh karenanya tokoh Srikandhi yang lelaki diganti menjadi perempuan.
Kekuatan moral ini akan sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab kekuatan moral inilah yang merupakan ciri utama kepribadian bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang ramah dan toleran. Toleran tidak dapat diartikan bahawa Indonesia tidak mempunyai prinsip, sebagaimana netral tidak memihak. Akan tetapi kita tetap harus memihak yang benar.
Secara ideologi indonesia tidak termasuk dunia barat (dunia kesatu) maupun dunia timur (dunia kedua) melainkan dunia ke tiga. Dunia petama menganut kapitalis, timur sosialis sedangkan dunia ketiga ialah negara yang tidak menganut kapitalis dan sosialis atau bahkan negara yang memadukan keduanya. Max Weber dalam Budiman (2000:37) mengemukakan teori pembangunan dunia ketiga yakni teori modernisasi yang menyatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang, pembangunan dunia ketiga menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan.
Salah satu bukti local genius yang dimiliki ulama Islam di awal penyebaran Islam yang mampu memadukan unsur Islam dengan budaya, tentu saja dalam batasan syar’iyah. Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai kesatuan nilai moral antara Islam dan budaya Indonesia ini sangat penting untuk membangun kekuatan moral dalam mengatasi segala permasalahan bangsa.
Kekuatan moral dalam membangun masyarakat dapat dikaji dari Al Quran surat Ali Imron: 110. Kuntum khairo ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuuna billahi. Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (Ali ‘Imran, 3:110). Ayat ini mengandung ajaran nilai moral yakni humanisasi (amar ma’ruf, memanusiakan manusia), liberasi (nahi munkar, pembebasan dari hal yang buruk) dan transendental (tu’minu billah, keimanan pada Allah Swt.).
Kekuatan moral ini berasal dari humanisasi yakni memanusiakan manusia. Mochtar Lubis (2001: 76) “Saya usulkan kita di Indonesia bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia kita”. Sikap bebas yang tanpa aturan hanya akan menciptakan dehumanisasi. Sedangkan aturan yang mengekang hanya akan menjadikan manusia yang dogmatis.
Agama mengajarkan nilai moral tertinggi dengan mengatur segala peri kehidupan manusia baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Semoga menjadi sebuah kesadaran bahwa Reeds in de eenvoudigiste stadien van sanienleving wordt de mensch zich bewust dat hij lets verschuldigd is, pentingnya hidup bersama sudah menjadi kesadaran manusia, sehingga ia harus mau menerima kewajibannya (In de Schaduwen van Morgen, Huzinga), baik sebagai manusia maupun hamba Allah.
Demikian Allah Swt. mengajar manusia dengan qalam (firman) –Nya.
Agustin Tri Astuti
Mahasiswa BSI 2003
(Koordinator Komisi Advokasi DPM FBS 2006)