Monday, February 25, 2008

Kangen Pramuka

Menjelang April…hari-hari jadi penuh air hujan. Begitu juga malam ini. Aku jadi teringat banyak kenangan saat mengikuti Pertiwana III. Hari itu (aku lupa tanggalnya) aku mendapat jatah kegiatan bakti hutan, kerja bakti hutan gitu. Aku dengar kabar Pertiwana III ini ‘kelinci percobaan’ Jambore Nasional bulan Juni 2001, waduh sedihnya tapi tidak mengapa, aku sudah dipertemukan dengan teman perjuangan yang keren-keren.
Sore itu hujan tak juga reda, di kaki gunung Slamet…brr ademe pooollll. Dengan mengenakan jas hujan milik bapak, yang masih tertulis Pos dan Giro (jas hujan kantor zadul, zaman dahulu Laughing) aku pede ke pos Bakti Hujan banyak juga yang berkomentar lantas tertawa geli ‘kok ada tukang pos nyasar’ , aku tidak peduli yang penting tidak kehujanan.

Sesampai di sana kami kerja bakti beneran, bersih-bersih sampah di hutan. Jadi kepikiran seharusnya pembalak kayu itu dihukum begini ya, bersih-bersih hutan atau disuruh menanam pohon sesuai yang dibalak sampai pohon itu gede. Biar tahu rasa! Aku paling sebelll dengan orang yang tidak cinta lingkungan. Hidup lingkungan!
Kembali ke cerita….
Tiba-tiba kakiku nyangkut kayu yang gede, kutarik susah juga. Akhirnya mau tidak mau aku minta tolong Ubaloka, Ubaloka itu anggota Pramuka tingkat Penegak yang sering bantu pelaksanaan kegiatan Pramuka yang gede (seingatku gitu). Mereka diseleksi loh.
“Kak, maaf minta tolong ni ada kayu gede banget.”
Beberapa ubaloka dan peserta Pertiwana III bergegas membantu, ramai-ramai. Tapi kok sulit ya..heran. Saat mereka asyik menarik tuh kayu aku ikuti ujung kayu..’Oalah..’, aku tersenyum sendiri,
Kemudian kuhampiri mereka agak malu juga.
“Kak, maaf.”
Mereka menoleh, “Ada apa Kak?”
“Sepertinya ini akar pohon itu.” aku menunjuk ke sebuah pohon yang gede banget.
Terdengar ledakan, bukan bom tapi tawa.
“Oalah…”

Jadi kangen Pramuka…oh ya katanya nanti jika wisuda keanggotaanku di Racana (satuan Pramuka Penegak, biasanya di PT) akan dilepas lewat upacara adat. Keren yaSmile, tapi sedih juga..Cry

Posted by ata at 13:05:11 | Permalink | No Comments »

Untuk Gerimis

April basah akan hadir lagi di tahun ini. Tahun ketujuh, setelah gerimis di pagi itu, di antara derai daun pinus, di antara rasa yang mengiringi kepergianku..rasa yang tak bisa kuejawantahkan, tapi tereja lewat buliran bening.
    di antara jeda sunyi
    di sana
    di kaki gunung Slamet
    di bumi perkemahan Baturraden
    Saat ruang dan waktu menghempas kebersamaan ini menjadi kenangan.
    29 April 2001
    Selalu tertatah di hati ini
    Pertiwana Daerah III Jateng (Perkemahan Bati Saka Wana Bakti) even Sumatra-Jawa-Bali

    Andai ku tahu, mungkin saat itulah terakhir kalinya kudendangkan lagu ini di antara gerimis
    “Gula-gula kelapa sama santan, Wana Bakti manise…
     Gula-gula kelapa sama santan, Temanggung manise….”
   
            
                                                                                                                      (mereka memanggilku)
                                                                                                                      Cah Ayu Temanggung No.12
                                                                                                                      Saka Wana Bakti Kwarcab XI. 23

Posted by ata at 12:48:46 | Permalink | No Comments »

Tuesday, February 5, 2008

Sebuah Pilihan

Beberapa hari ini aku menyadari banyak hal, sebuah proses yang panjang untuk mengenal arti diri. Bukan hal yang mudah manakala kita harus memilih, sebab tidak memilih pun kita juga telah memilih.
Kemarin malam, seorang teman, berbicara tentang sebuah pilihan. Ia mengatakan kepada kami kalau ia sedang galau. Sudah lama ia ingin meninggalkan dunia kelam yang selama ini ia kenal, dan alhamdulillah di Ramadhan ini ia berhasil meninggalkan dengan bertahap. Namun ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia masih berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa ia dulu dibesarkan dalam lingkungan kelam tersebut, sehingga ia merasa berhutang budi.
Oleh karenanya ketika teman masa lalunya berniat mengajaknya kembali ke kehidupan masa lalu dengan mengajaknya melakukan hal yang tidak baik, ia merasa bersalah. Ia ragu. Ia lalu berkata padaku “Komunitas kami penuh dengan kesetiakawanan dan solidaritas. Saya merasa tidak tahu budi. Sebab mereka banyak membantu saya”
Aku menyimak, merenung aku menamakannya dengan ukhuwah. Lantas terlintas olehku sebuah komunitas yang dulu pernah kumasuki, di masa lalu yang hampir sama dengan komunitasnya. Akan tetapi justru dalam komunitasku inilah aku mengenal dan belajar tentang sebuah arti kepercayaan diri dan sebuah izzatun muslimah, harga diri seorang muslimah. Aku belajar bagaimana cara bersikap dan berprinsip, tentu saja prinsip sebagai muslimah. Manakala anggota putri yang lain bersedia bersalaman -yang mungkin bagi banyak orang masih menganggap ini wajar dan diperbolehkan- aku tidak, dan alhamdulillah mereka menghargaiku seperti itu. Mereka tidak mengajakku bersalaman, ini contoh kecil saja. Sehingga pada saat itu aku benar-benar merasa diterima sebagaimana aku apa adanya, namun diperlakukan seharusnya aku.
Aku lantas bertanya pada temanku itu, “Kamu benar ingin kembali jadi baik?”
Ia terdiam, “Ya..tapi,”, “Saya bingung harus bagaimana”
Aku menghela nafas, ini memang bukan hal yang mudah. “Katakan pada mereka, kamu ingin berubah. Kamu tetap ingin berteman dengan mereka tapi dengan keadaan seperti sekarang.”
“Sulit, ini pilihan yang sulit.” ia menunduk dalam.
“Dengar,” kataku “Hidup ini adalah pilihan tidak memilih pun kamu sudah memilih. Jadi lebih baik kamu memilih yang kamu yakini.”
Ia menatap kosong. “Tapi sebentar lagi mereka mau ke sini,..saya tidak ingin niat saya berubah di bulan Ramadhan ini ternoda.”
Aku merasakan hatinya sakit karena ketidakberdayaannya.
“Biar aku yang temui mereka.” kata salah seorang teman yang ikut berbincang bersama kami.
Ia mengangguk tidak pasti. Aku mengangguk.
Tiba-tiba dua orang datang ke arah kami, memanggil nama temanku. Kami menoleh terkejut, aku takut, dan sungguh kuatir. Mereka tal kalah terkejut melihat keberadaanku.
“Kamu yang bisa menentukan..” ucapku pelan.
“Bagaimana? Jadi tidak?” tanya salah seorang dari mereka.
Temanku bingung, menatapku dan temannya bergantian. Aku berdoa, Ya Allah jagalah ia.
Galau ia menjawab, “Ayo!”
Aku pias, “Aku harus segera pergi. Pamit dulu.” aku lantas berdiri. “Yuk semua aku duluan.”
Ia menunduk, “Ya, kamu memang harus segera pergi.”
Aku merasa sedih…tapi kembali ku tersadar semua sudah menjadi skenario-Nya yang terbaik. Tak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa seizin-Nya.

Ramadhan/ Syawal 1427 H

Posted by ata at 12:16:09 | Permalink | No Comments »

Moral Force

Amenangi zaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu edan ora nahan

Yen tan melu anglakoni

Boya kaduma melik

Kaliren wekasipun

Ndilalah kersa Allah

Sakbegja-begjane wong lali

Luwih begja kang eling lan waspada

(RM Ranggawarsito dalam Serat Kalatido, salah satu cuplikan tembang Sinom)

Begitulah keadaan dunia sekarang ini. Penuh dengan ketimpangan, yang baik dicela dan yang buruk dipuji. Indonesia, bangsa yang memiliki local genius bahkan mulai kehilangan arah sebab anak bangsa mulai melupakan nilai-nilai yang membuat bangsa ini besar. Sehingga ketika bahtera bangsa ini oleng, serta merta banyak orang mengatakan “Bangsa ini telah lama berkiblat ke barat, sekarang kita harus kembali ke timur”.
    Ya, karena bangsa Indonesia merasa sebagai orang timur yakni bangsa yang digambarkan mempunyai tata aturan yang penuh kesopanan, adab, tata krama, dsb. Berbeda dengan istilah barat yang digambarkan sebagai sosok bangsa yang kurang beradab. Padahal dalam buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis dikatakan bahwasanya manusia Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagaimana manusia pada umumya yakni mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal yang unik dari manusia Indonesia adalah bahwa manusia Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang mempunyai kepercayaan. Itulah alasan saat ini manusia Indonesia menganggap bahwa agama adalah nilai moral tertinggi. Ini dibuktikan bahwa setiap warga Indonesia wajib menuliskan agama yang dianut, meski tidak dapat menjamin perilaku mereka menjadi lebih baik. Agama dianggap sebagai nilai moral tertinggi karena dalam agama mereka mempercayai adanya nilai-nilai dan aturan yang mengatur hidup mereka lebih baik.  
    Kekuatan moral, local genius, bangsa Indonesia telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya namun tetap padu. Hingga budaya dari luar pun disaring dengan baik sesuai dengan kepribadian bangsa dan akhirnya menambah khasanah budaya. Seperti tokoh Srikandhi yang dikenal oleh bangsa Indonesia (masyarakat Jawa) sebagai sosok pahlawan wanita yang heroik, sesungguhnya merupakan tokoh lelaki yang feminim; demikian kisah aslinya dari serat Mahabarata. Nilai-nilai moral bangsa Indonesia menolak adanya pernikahan sejenis (Janaka-Srikandhi) oleh karenanya tokoh Srikandhi yang lelaki diganti menjadi perempuan.  
    Kekuatan moral ini akan sangat penting artinya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab kekuatan moral inilah yang merupakan ciri utama kepribadian bangsa yang dikenal sebagai bangsa yang ramah dan toleran. Toleran tidak dapat diartikan bahawa Indonesia tidak mempunyai prinsip, sebagaimana netral tidak memihak. Akan tetapi kita tetap harus memihak yang benar.
    Secara ideologi indonesia tidak termasuk dunia barat (dunia kesatu) maupun dunia timur (dunia kedua) melainkan dunia ke tiga. Dunia petama menganut kapitalis, timur sosialis sedangkan dunia ketiga ialah negara yang tidak menganut kapitalis dan sosialis atau bahkan negara yang memadukan keduanya. Max Weber dalam Budiman (2000:37) mengemukakan teori pembangunan dunia ketiga yakni teori modernisasi yang menyatakan bahwa negara-negara yang sedang berkembang, pembangunan dunia ketiga menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budayanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan.
    Salah satu bukti local genius yang dimiliki ulama Islam di awal penyebaran Islam yang mampu memadukan unsur Islam dengan budaya, tentu saja dalam batasan syar’iyah. Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai kesatuan nilai moral antara Islam dan budaya Indonesia ini sangat penting untuk membangun kekuatan moral dalam mengatasi segala permasalahan bangsa.
    Kekuatan moral dalam membangun masyarakat dapat dikaji dari Al Quran surat Ali Imron: 110. Kuntum khairo ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuuna billahi. Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (Ali ‘Imran, 3:110). Ayat ini mengandung ajaran nilai moral yakni humanisasi (amar ma’ruf, memanusiakan manusia), liberasi (nahi munkar, pembebasan dari hal yang buruk) dan transendental (tu’minu billah, keimanan pada Allah Swt.).
    Kekuatan moral ini berasal dari humanisasi yakni memanusiakan manusia. Mochtar Lubis (2001: 76) “Saya usulkan kita di Indonesia bersikap lebih manusia terhadap sesama manusia kita”. Sikap bebas yang tanpa aturan hanya akan menciptakan dehumanisasi. Sedangkan aturan yang mengekang hanya akan menjadikan manusia yang dogmatis.
    Agama mengajarkan nilai moral tertinggi dengan mengatur segala peri kehidupan manusia baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Semoga menjadi sebuah kesadaran bahwa Reeds in de eenvoudigiste stadien van sanienleving wordt de mensch zich bewust dat hij lets verschuldigd is, pentingnya hidup bersama sudah menjadi kesadaran manusia, sehingga ia harus mau menerima kewajibannya (In de Schaduwen van Morgen, Huzinga), baik sebagai manusia maupun hamba Allah.
    Demikian Allah Swt. mengajar manusia dengan qalam (firman) –Nya.

Agustin Tri Astuti

Mahasiswa BSI 2003

(Koordinator Komisi Advokasi DPM FBS 2006)

Posted by ata at 11:58:55 | Permalink | No Comments »