MAHASISWA DAN SAMPAH
“Mahasiswa kok membuang sampah sembarangan.”
Kata itu sempat terlintas ketika terlihat seorang mahasiswa membuang sampah sembarangan setelah makan kudapan, padahal tidak jauh dari ia berdiri ada tempat sampah. Rasanya kurang pantas seorang mahasiswa yang dianggap sebagai bagian dari generasi pewaris negeri, calon pemimpin bangsa, dan sederet harapan bangsa yang tersandang di pundaknya ternyata tidak peduli terhadap lingkungan. Sebenarnya peduli lingkungan tidak hanya kewajiban mahasiswa saja, terlebih mahasiswa pecinta alam, namun sebagian besar orang berasumsi bahwa mahasiswa seharusnya lebih bisa memberikan keteladanan bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, misanya membuang sampah pada tempatnya.
Gelar mahasiswa bukanlah hal yang mudah didapatkan dan hanya untuk dibanggakan, gelar mahasiswa mengandung tanggung jawab yang lebih besar yakni ketika idealismenya serta tindak-tanduknya menjadi sorotan. Masyarakat menilai mahasiswa, yang merupakan bagian dari generasi muda, merupakan ujung tombak perjuangan bangsa. Sejarah membuktikan dalam setiap perjuangan bangsa, pemuda senantiasa menorehkan tinta emas.
Terkait dengan hal tersebut patut disayangkan ketika ada seorang mahasiswa yang di sisi lain menyuarakan kepentingan rakyat dan mahasiswa, mengadakan seminar, menyelenggarakan pentas seni, mengikuti lomba ilmiah, menyemarakkan kampus dengan berbagai warna sementara di sisi lain ia bahkan tidak peduli dengan lingkungannya. Oleh karena itu jika nantinya ada masyarakat yang tidak peduli lingkungan bisa jadi karena ia melihat bahwa mahasiswa yang seharusnya bisa dijadikan teladan pun tidak melakukannnya. Semoga hanya suatu kekuatiran saja manakala ada mahasiswa yang tidak peduli lingkungan mengadakan acara atau kegiatan maka acara atau kegiatan itu hanya untuk menjalankan program kerja organisasi bukan karena karena peduli terhadap kondisi sivitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Bagaimana ia mau peduli pada orang lain? Jika pada dirinya termasuk lingkungan yang menjadi tempat ia bernaung, ia tidak peduli. Seperti kekuatiran saya setelah menyaksikan tayangan “Selamat Pagi” di TV7 beberapa hari lalu bahwa ternyata Duta Lingkungan Hidup, Marshanda, bahkan tidak pernah membuang sampah di rumahnya (membersihkan rumah dari sampah-pen).
Suatu kali saya dan tim Unnes pernah berkesempatan mengikuti kegiatan berdampingan dengan tim IPB (Institut Pertanian Bogor). Kami mengikuti kegiatan yang sama dari awal sampai akhir, makan dengan kudapan yang sama, duduk di tempat yang sama hingga di akhir kegiatan terlihat perbedaan yang membuat miris. Tim IPB meninggalkan ruangan dalam keadaan seperti semula, rapi dan bersih. Sampah bekas kudapan mereka letakkan di pojok ruangan, botol minuman pun mereka tata, terlintas seperti belum dimakan. Berbeda ketika melihat keadaan kami. Saya percaya tidak semua anggota tim Unnes tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan hanya saja terkadang orang berpikiran sebagian besar itu mewakili semuanya.
Tidak itu saja, bahkan setelah membeli makanan ringan masih sering didapati mahasiswa yang membuang sampah yang tidak pada tempatnya, terkadang dibiarkan terserak begitu saja. Bukan hal yang dibesar-besarkan manakala para cleaning service mengeluh tentang kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan kampus. Memang benar adanya mereka dibayar untuk membantu membersihkan kampus, tetapi kebersihan, kerapian, dan kelestarian lingkungan kampus merupakan tanggung jawab bersama. Minimal biasakan membuang sampah pada tempatnya. Kita harus ingat, bumi ini bukan tempat sampah.
Masih terekam di benak saya slogan yang diucapkan Duta Pramuka Internasional saat menghadiri Perkemahan Bakti Saka Wana Bakti Daerah Jawa Tengah even-Sumatra-Jawa-Bali tahun 2001 di Baturraden, Jawa Tengah, “No Forest No Future”. Slogan tersebut mengingatkan kita agar selalu menjaga alam dan melestarikannya karena alam ini merupakan suatu ekosistem yang saling terkait dan bergantung satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu sebelum pohon terakhir tertebang, sebelum sungai terakhir kotor, sebelum udara terakhir beracun marilah kita bersama menjaga lingkungan kita. Mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang karena kebersihan juga sebagian dari iman.
Agustin T. A.
Anggota IPDS (Ikatan Purna Dewan Saka) Wana Bakti Kwarcab XI.23
(Pernah dipublikasikan di Buletin “REPLIKA” BEM KM Unnes vol. 2 pada bulan September 2007)