Thursday, January 31, 2008

Sua sahabatku, ukhti Danik

Malam ini semakin dingin, setelah gerimis bertandang dua hari ini. Teringat seorang sahabat yang tengah tergolek di Rumah sakit karena kecelakaan, seorang sahabat yang selalu tersenyum untukku, yang ketika capai justru malah menawarkan bahunya untukku. Sungguh, sore tadi, ketika sisa sinar matahari masih tinggal merah di mega yang mendung aku melihat senyumnya…lalu hati ini jadi membiru.

“Cepat sembuh ya Ukhti chay, I loph u coz of Allah”

Posted by ata at 13:46:17 | Permalink | No Comments »

MAHASISWA DAN SAMPAH

“Mahasiswa kok membuang sampah sembarangan.”

Kata itu sempat terlintas ketika terlihat seorang mahasiswa membuang sampah sembarangan setelah makan kudapan, padahal tidak jauh dari ia berdiri ada tempat sampah. Rasanya kurang pantas seorang mahasiswa yang dianggap sebagai bagian dari generasi pewaris negeri, calon pemimpin bangsa, dan sederet harapan bangsa yang tersandang di pundaknya ternyata tidak peduli terhadap lingkungan. Sebenarnya peduli lingkungan tidak hanya kewajiban mahasiswa saja, terlebih mahasiswa pecinta alam, namun sebagian besar orang berasumsi bahwa mahasiswa seharusnya lebih bisa memberikan keteladanan bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, misanya membuang sampah pada tempatnya.
    Gelar mahasiswa bukanlah hal yang mudah didapatkan dan hanya untuk dibanggakan, gelar mahasiswa mengandung tanggung jawab yang lebih besar yakni ketika idealismenya serta tindak-tanduknya menjadi sorotan. Masyarakat menilai mahasiswa, yang merupakan bagian dari generasi muda, merupakan ujung tombak perjuangan bangsa. Sejarah membuktikan dalam setiap perjuangan bangsa, pemuda senantiasa menorehkan tinta emas.
    Terkait dengan hal tersebut patut disayangkan ketika ada seorang mahasiswa yang di sisi lain menyuarakan kepentingan rakyat dan mahasiswa, mengadakan seminar, menyelenggarakan pentas seni, mengikuti lomba ilmiah, menyemarakkan kampus dengan berbagai warna sementara di sisi lain ia bahkan tidak peduli dengan lingkungannya. Oleh karena itu jika nantinya ada masyarakat yang tidak peduli lingkungan bisa jadi karena ia melihat bahwa mahasiswa yang seharusnya bisa dijadikan teladan pun tidak melakukannnya. Semoga hanya suatu kekuatiran saja manakala ada mahasiswa yang tidak peduli lingkungan mengadakan acara atau kegiatan maka acara atau kegiatan itu hanya untuk menjalankan program kerja organisasi bukan karena karena peduli terhadap kondisi sivitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Bagaimana ia mau peduli pada orang lain? Jika pada dirinya termasuk lingkungan yang menjadi tempat ia bernaung, ia tidak peduli. Seperti kekuatiran saya setelah menyaksikan tayangan “Selamat Pagi” di TV7 beberapa hari lalu bahwa ternyata Duta Lingkungan Hidup, Marshanda, bahkan tidak pernah membuang sampah di rumahnya (membersihkan rumah dari sampah-pen).  
    Suatu kali saya dan tim Unnes pernah berkesempatan mengikuti kegiatan berdampingan dengan tim IPB (Institut Pertanian Bogor). Kami mengikuti kegiatan yang sama dari awal sampai akhir, makan dengan kudapan yang sama, duduk di tempat yang sama hingga di akhir kegiatan terlihat perbedaan yang membuat miris. Tim IPB meninggalkan ruangan dalam keadaan seperti semula, rapi dan bersih. Sampah bekas kudapan mereka letakkan di pojok ruangan, botol minuman pun mereka tata, terlintas seperti belum dimakan. Berbeda ketika melihat keadaan kami. Saya percaya tidak semua anggota tim Unnes tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan hanya saja terkadang orang berpikiran sebagian besar itu mewakili semuanya.
    Tidak itu saja, bahkan setelah membeli makanan ringan masih sering didapati mahasiswa yang membuang sampah yang tidak pada tempatnya, terkadang dibiarkan terserak begitu saja. Bukan hal yang dibesar-besarkan manakala para cleaning service mengeluh tentang kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan kampus. Memang benar adanya mereka dibayar untuk membantu membersihkan kampus, tetapi kebersihan, kerapian, dan kelestarian lingkungan kampus merupakan tanggung jawab bersama. Minimal biasakan membuang sampah pada tempatnya. Kita harus ingat, bumi ini bukan tempat sampah.
    Masih terekam di benak saya slogan yang diucapkan Duta Pramuka Internasional saat menghadiri Perkemahan Bakti Saka Wana Bakti Daerah Jawa Tengah even-Sumatra-Jawa-Bali tahun 2001 di Baturraden, Jawa Tengah, “No Forest No Future”. Slogan tersebut mengingatkan kita agar selalu menjaga alam dan melestarikannya karena alam ini merupakan suatu ekosistem yang saling terkait dan bergantung satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu sebelum pohon terakhir tertebang, sebelum sungai terakhir kotor, sebelum udara terakhir beracun marilah kita bersama menjaga lingkungan kita. Mulai dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang karena kebersihan juga sebagian dari iman.

Agustin T. A.

Anggota IPDS (Ikatan Purna Dewan Saka) Wana Bakti Kwarcab XI.23

(Pernah dipublikasikan di Buletin “REPLIKA” BEM KM Unnes vol. 2 pada bulan September 2007)

Posted by ata at 13:31:52 | Permalink | No Comments »

Monday, January 28, 2008

Lost in the..

Sore itu setelah rapat suatu kegiatan. Aku dan teman-teman menyempatkan berdiskusi tentang rencana kegiatan yang akan kami laksanakan. Setelah berdiskusi agak lama salah seorang temanku, keluar dari tempat rapat dengan tergesa-gesa. Ia mencari-cari sesuatu di deretan motor yang diparkir.

“Loh! Motorku kok ilang?” ia berseru.

 

Teman-temanku yang lain saling berpandangan. Lantas ada yang menyeletuk.

“Motormu kan baru dipinjam.”

Ia terdiam. “Oh ya lupa.”

Kami tertawa. Oalah..

Kali waktu yang lain saat kami mau rapat, kebetulan iai terlambat datang, padahal ia yang memimpin rapat. Setelah duduk di depan ia terlihat bingung.

Ada apa?” tanya anggota rapat.

“Waduh, tasku di mana ya?” ia bingung mencari di ruangan.

Aku mengucap lirih, “Perasaan dia masuk tidak membawa tas.”

Temanku menyampaikan “Tadi kamu masuk tidak bawa tas.”

Ia sekilas bingung ia lalu keluar, “Rapat dilanjutkan dulu ya.”

Tak berapa lama ia kembali dengan tas sambil cengar-cengir.

“Ketemu di mana?” tanya kami.

“Di tempat rapat yang lain.” Ia meringis.

Kami terdiam sambil geleng-geleng. How come prend?

Salah satu Episode Laskar Cinta 1428 H

Posted by ata at 04:51:22 | Permalink | No Comments »

Misteri Motor yang hilang..

    Hari itu tanggal 28 September 2006 aku masih ingat, hari itu acara buka bersama Ling Art, salah satu lembaga kemahasiswaan di FBS. Kami mengadakan buka bersama sekaligus persiapan pembuatan PKM (Program Kegiatan Mahsiswa) suatu lomba karya tulis mahasiswa tingkat nasional. Telah hadir birokrat, beberapa dosen, dan mahasiswa. Untung tidak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Saat adzan Maghrib minuman pembuka belum sampai terpaksa aku berlari-lari mengambil. Alhamdulillah sudah dapat diatasi. Meski dapat sindiran dari birokrat. Tidak mengapa…
    Setelah selesai aku dan Nae bermaksud ke UKM Riptek untuk mengembalikan flash disk yang kami pinjam, sudah janji mau mengembalikan ba’da Maghrib. Aku lalu pinjam kunci motor Tezar, sampai di tempat parkir kulihat dua motor satu bertuliskan Kiss dan yang satu polos. Aku berasumsi yang bertuliskan Kiss tentu milik Kis salah seorang pengurus Ling Art. Jadi otomatis yang satu tentunya milik Tezar.
    Dengan kecepatan tinggi aku diboncengkan Nae melesat ke UKM Riptek, hingga sampai di kawasan UKM tersebut kami sempat hampir jatuh karena salah jalan sudah demikian di depan Mushola FIS, banyak ikhwan baru sholat Maghrib. Alhamdulillah flash disk sudah kami kembalikan. Kami segera kembali ke gedung Dekanat tempat acara berlangsung, lewat di depan gedung terlihat wajah bingung pak Tony, dosen pembimbing karya tulis; mas Syaifudin, ketua Ling Art sebelum aku; Tezar, Diwan, dan Kis. Aku melambaikan tangan layaknya Miss World sambil tersenyum. Rencananya setelah ke PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) FBS untuk bagi-bagi makanan aku baru ke Dekanat lagi. Tiba di PKM Nae pucat
    “Mbak, kuncinya hilang?”
    “Ya wis kita kembali susuri jalan.” Aku berniat kembali ke FIS.
    Lewat di gedung Dekanat mas Syaifudin mencegatku.
    “Dek, kamu bawa motornya siapa?”
    “Tezar.” Jawabku ringan.
    “Tu motornya pak Tony.” ujar mas Syaifudin, membuatku tidak enak dan kaget.
    “Tapi,..kok kunci motornya Tezar bisa masuk…” Nae membela diri, lemah.
    “Ini kunci saya. Saya bingung kok motor saya hilang padahal kuncinya ada di tas.” Kata pak Tony.
    “Saya lebih bingung lagi. Mbak pinjam kunci motor saya tapi kok motornya tidak dibawa.” imbuh Tezar
    Aku syok dan malu. “Waduh maaf ya…Salah ambil. Tapi kok kuncinya masuk.”
    Pak Tony mengangguk lantas segera pulang. Alhamdulillah..
    “Lha Mbak, kunciku?” pertanyaan dari Tezar buatku meringis.
    “Jatuh Dek, ntar ya mbak cari.”
    Tezar lemes, ia kos di Semarang bawah.
    “Kami cepet wis mencarinya.”
    “Aku bantu Mbak.” Diwan menawarkan bantuan.
    Akhirnya aku, Diwan, dan Nae seperti orang yang kehilangan uang menyusuri jalan gelap antara FBS dan FIP. Aku percaya jatuhnya di FIS, dekat mushola. Benar saja setelah kami melongok gorong-gorong depan mushola, terlihat kunci Tezar.
    “Alhamdulillah!” seruku tidak sadar, buatku malu. Baru ingat jika di mushola banyak ikhwan menanti waktu Isya. Apalagi aku bersama Nae dan seorang cowok. Buru-buru aku mengajak mereka pulang.
    Di tengah perjalanan Diwan bercerita.
    “Waktu pak Tony mau pulang pak Tony kaget ‘Lho motor saya kok hilang. Padahal kuncinya ada di tas’, Tezar lebih kaget tapi ia berbisik pelan ‘Lho motorku kok masih ada kuncinya dibawa mbak Ta, katanya mau pinjam motor.’ Kami kira ada yang mencuri eh mbak Ta datang bersama Nae dengan pede melambaikan tangan berlagak jadi Miss World lagi. Pede banget.” Ia tertawa dibarengi Nae.
    Aku sendiri tersenyum kecut menyadari kesalahanku. Wah jadi pencuri korban keadaan nih.

 

    “Eh mbak ngomong-ngomong jika motor pak Tony bisa dibawa mbak, berarti motor pak Tony rawan dicuri ya?” Diwan berkata lirih.

 

Aku dan Nae berpandangan. “Bukan kami loh!”

(Ini kejadian nyata, nama pelaku sengaja disamarkan..Smile, lovely Ling Art “CENDEKIA UNGU”)

 

Posted by ata at 04:48:35 | Permalink | Comments (2)

Gerimis Senja

    Hari itu aku berniat membagikan tadzkiroh (artikel yang berisi pengingatan tentang dakwah Islam). Kebetulan tema bulan ini tentang cinta. Sebab aku dan teman-teman pengurus Rohis (Kerohanian Islam) sedang berusaha membantu teman-teman yang sedang “jatuh cinta”.
    Saat aku berada di gedung jurusanku aku bertemu dengan Wian adik kelasku, ikhwan (pengurus Rohis putra) yang kebetulan sedang dikabarkan “jatuh cinta”. Baru mau berbicara dia sudah laporan.
    “Mbak, Wian baru jatuh, sakit nih.” Ia menunjukkan luka di keningnya.
    “Sudah diobati?” tanyaku agak cemas. Wian baru saja sakit typhus hinga beberapa minggu di rumah.
    “Sudah Mbak.”
    Aku ragu mau menyerahkan tadzkiroh. Aku sebenarnya lebih suka jika kami diskusi, sehingga lebih mengena dan tidak terkesan menggurui lagipula aku juga belum konfirmasi kepada Wian berita itu.
    Tiba-tiba muncul seorang gadis manis, teman sekelasnya. Ia tidak berbicara hanya memandang Wian dan aku bergantian lalu pergi menaiki tangga.
    “Hei!” Wian memanggil gadis itu hingga gadis itu berhenti. Wian berbicara sebentar lalu kembali ke arahku.
    “Mbak, aku kuliah dulu ya.”
    Aku mengangguk. ‘Baiklah kali lain aku bisa memberikan tadzkiroh ini kepadanya. Ia pergi. Entah kenapa aku merasa waktu kami tidak banyak. Aku lantas memanggilnya.
    “Dek!”
    Ia menoleh, tersenyum “Ada apa Mbak? Ntar aja ya.”
    Aku kembali mengangguk galau.
    Malamnya aku baru tidur sekitar jam 24.00 WIB ada tugas yang harus diselesaikan. Baru dua jam tidur sekitar jam 02.00 WIB tiba-tiba aku terbangun. Badanku berkeringat dingin dan perasaanku sangat tidak enak. Namun kupaksakan tidur, besok pagi ada registrasi mahasiswa baru dan aku PJ-nya.
    Pagi jam 10an aku masih di audiotorium membantu panitia OKKA dalam melayani mahasiswa baru. Sementara itu aku juga bolak-balik ke UKM Pramuka, karena aku juga panitia di sana.
    Seorang petugas dari Menwa memanggilku, ternyata seorang akhwat (pengurus Rohis putri) memanggilku. Akumenghampirinya.
    “Ada apa Dek?”
    “Mbak, adek mbak, Wian ninggal.” katanya lirih
    Aku kaget “Bapaknya?”
    Ia menggeleng.
    “Ibunya?”
    Ia kembali menggeleng. Aku risau.
    “Wian Mbak.” ujarnya.
    Aku terdiam “ Ya, jazakillah. “
    Aku merasa linglung. Segera menuju sekretariat OKKA FBS dan UKM Racana untuk pamit. Mbak Lelis koordinator Menteri BEM FBS mau ikut.
    Sepanjang perjalanan aku terdiam. Hingga adek yang memberitahuku merasa kuatir.
    “Mbak, Mbak sabar ya.” hiburnya.
    Aku mengangguk tersenyum pias.
    Sampai di kos aku mencari Fatwa, sahabatku. Dia juga kenal dekat dengan Wian. Saat itu ia sedang menyetrika. Aku menariknya ke kamar lalu memeluknya.
    “Fat, Wian, adik kita ninggal.”
    Tanpa kusadari air mataku deras mengalir. Ia menangis sesenggukan.
    Siangnya kami ke takziah ke Batang. Ingat aku beberapa bulan lalu kami ke Batang untuk berwisata agar tidak macet maka mobil yang kami carter diberi tulisan takziah dan hari ini kami betul-betul takziah.
    Sesampainya di rumah Wian kami menemui ibu Wian. Ibu Wian bercerita saat-saat akhir hidup Wian.
    “Jam 23 Wian mengenakan baju haji bapaknya. Jam 1 malam jantungnya kambuh dan jam 2 ia meninggal.” Ibu Wian terisak
    Aku tak dapat menahan haru biru, jam 2 ialah waktu saat aku tiba-tiba bangun. Aku menangis lagi. Oleh karena itu aku minta izin ke makam Wian. Lama kupandangi makam yang masih basah. Semilir angin menyapa wajahku. Aku terkesiap.
    “Wian…”
    Mas Hery dan Aji temanku mematung lalu jongkok untuk berdoa. Setelah berdoa aku kembali ke mobil disusul mereka. Kulihat mereka menangis. Hatiku semakin pilu. Wian,..adikku.
    “Teringat indah senandungmu…”(lirik lagu nasyid LAZUARDI, “Senandung untuk Ayah”)
    Aku ingat saat Rohis mengadakan acara TPQ Ngabuburit ia semangat sekali. Datang paling awal, dekat dengan adik-adik. Cara ia bercerita, tertawa, kecewa..masih kuingat jelas hingga sekarang. Bahkan ia dulu ingin menjadi ketua Rohis.
    Bila kulihat gerimis senja, kususuri lenggang sepi gang Kenanga belakang Kampus, dan lorong gedung B1….aku kembali teringat seorang Wian. November basah 2007 setelah ia pergi 7 Juni 2005.

 

(Kisah ini apa adanya, nama-nama tokoh, biar di hati sajaCry…)

Posted by ata at 04:44:50 | Permalink | No Comments »

Antara aku, kau, dan dakwah kita

    Siang itu, suara nyaring band dari Rohis Fakultas di acara Festival Seni Islami terasa hening di antara kami. karena hanya ada sepi. Aku memandang ke arah yang berbeda dengannya, menunduk. Sekilas kulihat ia memandang jauh ke depan, mencoba tegar.  
    Teman-teman yang sedang duduk di depan panggung terbuka hanya menatap kami, tidak dapat membaca kebisuan ini.
    “Bagaimana Akh?” tanyaku tercekat memecah sunyi. Aku seakan tidak mendengar suaraku sendiri. Antara harap, ragu, dan cemas.
    Ia terdiam, terdengar helaan nafas panjangnya yang berat.
    “Entahlah Ukht.”
    Aku merasa gamang, ingin segera kusudahi ingat ucapan salah seorang al akh tadi pagi, bahwa dia tidak bersedia, tapi aku ingin tetap di sini. Karena aku percaya pada kekuatan hati, kekuatan dari Allah.
    Tapi ketika lama tidak ada yang memulai bicara lagi, aku merasa harus mengakhiri..
    “Ya…sudah.” Aku akan beranjak pergi sebelum tiba-tiba ia menggeser posisi duduknya dengan tanpa menghadap ke arahku.
    “Mengapa..mengapa Anti memilih ana?”   
    Aku memandangnya sekilas lalu menatap lazuardi yang abu-abu bagiku mencoba mencari kekuatan di sana. Kuselami hatiku berharap temukan jawaban. Aku tidak pernah menduga ia akan bertanya seperti ini. Aku tidak mau ia merasa seperti dijadikan pilihan terakhir.
    “Mengapa Mbak?”
    Lidahku jadi kelu, tidak seperti ketika aku membujuk adek-adek agar tetap berada di jalan dakwah ini atau ketika aku melobi birokrat dan bernegoisasi lalu berhasil dengan izin Allah.
    “Karena mbak merasa Njenengan bisa…” jawabku, akhirnya bersamaan dengan suara musik yang keras.
    “Afwan ana tidak mendengar..” ucapnya
    Ya Allah, hatiku sudah biru. Ingin menyeruak buliran yang sembunyi di kelopak mataku.
    “Alasannya….karena Allah.” aku mendongak.
    Air mata jangan berderai di depan manusia, aku tidak mau.
    Lama dia terdiam.
    Sudahlah, mungkin Allah memberi skenario lain yang lebih indah untukku, dan untuknya, dan untuk dakwah ini.
    “Ya..” aku mau berkata ‘ya sudah Akh, ana tidak memaksa’
    Ia menoleh ke arahku.
    “Insyaallah Mba.”
    “Apa?”
    ‘aku tidak salah mendengar kan?’ bisik hati kecilku.
    “Insyaallah Mbak, ana siap.”
    Haru bahagia bercampur kuatir lantas menegur.
    “Ana..tidak medzalimi Njenengan kan?”
    Aku berpaling, tempias air mata ini tanpa menyapa mengalir.   
    “Tidak Mbak.. Ayo berangkat” ia tersenyum dan aku ikut tersenyum

Ya Allah, tadi pagi seorang al akh pejuang Laskar Cinta memintanya untuk jadi anggota DPM KM mewakili fakultas tapi dia tidak mau. Padahal jika BEM fakultas tidak dikelola maka advokasi untuk dakwah ini akan semakin tertutup. Harapan kami tinggal dia, dan dalam waktu kurang sepuluh menit penutupan pendaftaran aku harus membujuk dia…ikhwan (pengurus Rohis) adik kelasku.

Saat acara Rohis, 1 Desember 2007 di serambi dekanat dalam salah satu episode Laskar Cinta 1428 H.

Posted by ata at 04:37:01 | Permalink | No Comments »

Tuesday, January 15, 2008

Sulung

Pada sore yang abu-abu ini kumulai dengan basmallah…bismillahirrahmanirrahim

sampun itu saja sebagai aksara pertama yang tak wantah, dan harus dibaca setiap muslim setiap nglakoni lakon
kehidupan ini

Posted by ata at 10:29:45 | Permalink | Comments (1) »